TITIK BALIK 2021
- Aksara Loka

- Jan 29, 2021
- 3 min read
Aku mengenal dunia media sosial sejak Friendster masih marak digunakan. Kebetulan sebelah rumah buka warnet. Saat itu semuanya belum secanggih hari ini. Karena belum begitu mengerti dunia maya media sosial, maka aku hanya menggunakan nama samaran untuk akunku kala itu. Tak banyak teman yang kupunya saat itu, karena SMS dan telpon rasanya sudah lebih dari cukup. Dahulu, biaya telpon dan SMS seakan tak pernah terpikir olehku, yang jika kuingat-ingat lagi hari ini, aku meringis membayangkan betapa borosnya aku saat itu.
2011 aku baru benar-benar aktif di platform media sosial Facebook, dengan posisi sebagai mahasiswi guru di Pondok Pesantren tempatku ditempa sejak lulus Sekolah Dasar. Pondok hanya libur di hari Jum’at saja, dan alat eletronik yang diperbolehkan hanya laptop, kamera dan MP3/4/5 saja. Akses internet di pondok hanya terpusat di satu gedung, DCC namanya. DCC hanya menyediakan beberapa unit komputer saja, dan jelas tidak memenuhi jumlah mahasiswi guru yang ada, maka, unit komputer hanya untuk mahasiswi guru terjadwal, sedangkan yang ingin mengakses internet di luar jadwalnya, dapat menggunakan laptop pribadi. Setiap harinya, DCC buka dari jam 22.00 – 00.00 WIB, sedangkan untuk hari Jum’at jadwalnya jadi lebih longgar, buka dari pagi. Tapi bayangkan saja, bagaimana server internet digunakan oleh begitu banyak perangkat. Tapi tenang saja, kami sudah terbiasa dengan internet yang lambat dan buffering yang mampu menjadikan kami salah satu arca candi manapun.
Lingkaran pertemananku kala itu berputar pada sekitaran teman pondok saja, entah itu kakak kelas, teman sebaya dan adik kelas, tak lupa beberapa guru pun masuk dalam list pertemanan, hanya jarang bahkan tak pernah kuajak interaksi. Entah karena takut, malu atau rikuh. Konten dalam media sosialku hanya terbatas pada unggahan foto bersama teman-teman dengan caption seadanya, kutipan dari beberapa buku yang kubaca saat kuliah, kutipan tausiyah guruku, atau bahkan hasil evalusi mengajar mingguan. Aku belum memulai hal yang dinamai kampanye media sosial seperti yang marak seperti saat ini, karena aku memang hanya mengenal lingkungan pondok saja, dan belum banyak berbaur dengan banyak masyarakat.
Tahun selanjutnya, aku membuat akun media sosial twitter, meski karakter tulisan di twitter sangat terbatas, aku tak mempermasalahkan itu. Aku menyukai tulisan banyak orang di twitter yang terkesan singkat, padat, jelas dan direct to the point. Twitter adalah platform media sosial anti basa-basi menurutku. Di tahun ini pula, aku memiliki keingingan untuk mengelola sebuat personal blog, namun lagi-lagi niat hanya berakhir pada niat, karena aku terlalu asyik menikmati tulisan orang lain dibandingkan membuat tulisanku sendiri, sedangkan alasan lainnya adalah, aku belum cukup percaya diri untuk memperkenalkan tulisanku secara luas.
Beberapa waktu, setelah aku mengakhiri masa mahasiswi guru, aku membuat sebuah akun instagram. Dan isinya masih sama saja, hanya mengunggah gambar dan memberi caption seadanya. Aku tak pernah terfikir untuk mendapatkan banyak like dan komentar atau follower sekalipun, karena niatan awal membuat media sosial adalah membuat album kenangan secara virtual, yang tidak membebani penyimpanan internal di ponselku. Lagi-lagi aku belum terfikir untuk menjadi pemengaruh di media sosial, aku merasa belum begitu mengenal media sosial sebaik orang-orang kebanyakan. Itulah yang membuat semua akun media sosialku ada pada mode privasi.
2021 menjadi titik balik terbaik yang pernah kurasakan. Berawal dari sebuah beasiswa literasi media yang diberikan oleh komunitas Cerita Bineka dan Srikandi Lintas Iman Yogyakarta, aku mulai membuka diri untuk membuat konten positif yang kuharap bisa dibaca banyak orang. Meski awalnya hanya sebagai tugas rutin pasca workshop dan diulas saat mentoring, lama kelamaan aku menyukai hal itu. Aku menjadi lebih percaya akan diriku sendiri, bahwa aku bisa menulis, jika aku mau belajar lebih giat lagi.
Beasiswa literasi membuka banyak link pada komunitas kepenulisan lainnya, yang membuat aku mendaftar pada sebuah komunitas menulis khusus perempuan, namanya Puan Menulis. Berharap bahwa tulisan yang kukirimkan dapat membawaku pada penerimaan komunitas menulis ini. Tak lama berselang, ada lagi momentum 30 hari bercerita yang diinisiasi oleh Indonesian Content Creator, sebuah kesempatan untuk melatih konsistensi dalam menulis, tak perlu sempurna pikirku, bukankah practice makes perfect? Setelah berhasil masuk ke dalam WA grup ODOP (One Day One Post) dari ICC, ternyata tema 30 hari menulis sudah ditentukan, jelas hal ini sangat mempermudah dalam pencarian ide penulisan.
Pada ODOP ICC, seluruh peserta diminta untuk menyertakan link tautan blog, facebook, dan instagram post, jelas mau tak mau aku harus kembali pada niatan awalku, yakni menulis di blog. Jika kuingat-ingat, sudah tiga kali aku membuat blog, dari domain blogspot, wordpress, hingga wixsite, dengan dua blog pertama yang entah apa alamat dan passwordnya, aku sudah lupa, menyisakan blog ketigaku. ODOP ICC membuatku pertama kali dalam hidupku termotivasi untuk mengisi blog dengan apapun yang ingin kutulis yang penting sejalan dengan tema yang ditentukan oleh pihak ICC. Sudah 29 hari berjalan, dan esok adalah hari terakhir dalam menulis pada momen 30 hari bercerita. Aku mencintai diriku sendiri, yang telah mampu menulis secara konsisten pada momen ini.
Akan sangat menyenangkan jika kita dapat tetap terhubung melalui platform media sosial yang ada. Temukan saya pada Facebook: Samhaty Najib ; Instagram: @samhatynajib ; Twitter: @SamhatyNajib ; Telegram: @samhatynajib. Dan baca tulisan saya pada https://aksaraloka911.wixsite.com/blog .
Ungaran, 29 Januari 2021





Comments