SHARING TIME WITH NAJHATY SHARMA
- Aksara Loka

- Jan 22, 2021
- 3 min read
Bagi yang mengetahui serunya novel Dua Barista, karangan Ning Najhaty Sharma, akan sangat mudah menebak jika penulisnya juga seru dan penuh semangat. Setidaknya itulah kesan awal yang kutangkap saat mengikuti sesi sharing time dengan beliau tadi malam. Ning Haty, begitu sapaan akrab beliau, tidak melahirkan novel Dua Barista dengan instan, melainkan melalui proses yang luar biasa panjang. Ada dua hal yang paling mendasar yang harus dilakukan oleh seseorang tatkala ingin memulai menulis novel, yakni “Latihan bertahun-tahun”, tak usah hiraukan teori apapun, yang penting nulis dulu, suatu saat akan menemukan teori sendiri yang unik. Dan yang kedua adalah “Membangun kontruksi cerita”.
Dalam membangun kontruksi cerita, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) Penokohan, penulis perlu menggali karakter secara utuh untuk membuat karakter tokoh yang kuat; (2) Latar, yang terpenting dalam menentukan latar cerita adalah penguasaan penulis terhadap latar itu, sehingga nampak nyata. Latar luar negeri tak selamanya menjual, karena yang penting adalah penguasaan latar. (3) Konflik, hal ini dibuat agar cerita makin hidup. Salah satu tips untuk menemukan konflik yang menggelitik adalah dengan memperhatikan fenomena kehidupan di sekitar kita. Dan (4) Solusi konflik, yang dapat dilakukan dengan menyisipkan petuah, membaca motivasi, belajar dari kehidupan orang lain, sering bertemu dengan orang baru, meski terkadang aka menimbulkan masalah baru, setidaknya akan membawa hikmah baru juga. Kontruksi cerita harus benar-benar dibuat matang, jika tidak, jangan heran bila menemukan ending yang aneh dari cerita yang sedang ditulis.
Menurut Ning Haty, ada perbedaan antara plot dan alur. Dimana plot mewajibkan adanya kesinambungan antara part satu dengan lainnya, sehingga membuat alur yang dibuat tidak akan terbuang sia-sia. Sedangkan alur, biasanya mengalir begitu saja, tak jarang kita menemukan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan inti cerita, muncul begitu saja. Namun kehadiran alur juga tidak mengganggu, justru membuat cerita makin gurih dibaca. Namun, alur yang bertele-tele justru akan membuat pembaca merasa bosan. Untuk itu, buat twist dan surprise di akhir tiap part yang ada. Agar pembaca makin tertarik dan penasaran. Gunakan platform media sosial sebagai media interaksi penulis dengan pembaca, untuk mendapatkan match and balancing dalam cerita dan re-read dari penulis juga akan menjadi koreksi yang baik. Dua barista mengalami 11 revisi melalui cara-cara itu, demi mendapatkan feel yang dimau.
Hari ini, banyak pembaca yang lebih suka membaca buku gratisan daripada membeli, untuk itulah trik pemasaran harus dikemas dengan cara yang indah juga. Ada 2 jenis marketing, yakni Organik dan Non-Organik. Dimana marketing organik dimulai dari nol, tanpa jaringan, upaya membangun relasi sendiri dan melibatkan pembaca langsung untuk mengkritik dan mengomentari. Sedangkan marketing Non-Organik memanfaatkan Instagram ads atau Facebook ads, dimana promosi dapat ditentukan sesuai dengan target marketnya. Dua barista dipasarkan dengan cara organik. Melalui facebook, penulis berinteraksi dengan para pembacanya, dengan trik covered sharing, yakni tidak membebani pembaca untuk membeli buku. Namun karena kekuatan cerita yang memainkan perasaan pembacanya, juga interaksi langsung si penulis dengan pambacanya, membuat para pembaca tergerak secara rela hati untuk memiliki cerita itu dalam bentuk novel dengan cara membelinya.
Novel Dua Barista hadir melalui riset yang tidak sebentar, dimana penulis bertemu dengan banyak orang, mendengarkan banyak kisah dan mengaitkannya dengan cerita yang tengah di tulis, dan kesemuanya itu Ning Haty catat dengan rapi pada Google Keep, sehingga dapat diakses dimanapun dan kapanpun olehnya. Beruntung tokoh pada novel itu mudah dicari, sehingga penggalian feel nya tidak terlalu sulit, juga dengan latar cerita ini. Dan karena novel ini mengangkat isu sensitif, yakni poligami, maka penulis benar-benar sangat berhati-hati dalam penulisannya, sehingga tidak muncul stigma penghakiman atas poligami. Ning Haty sama dengan penulis lainnya, acap kali merasa mood nya naik dan turun, hingga inspirasi nya terhenti. Jika hal itu terjadi, ia memilih berhenti sejenak dan mencari inspirasi sekaligus menstimulasi perbaikan mood. Dan yang terakhir, Ning Haty menyatakan bahwa inspirasinya mendadak lancar dan mood nya stabil, pasca mendapatkan doa dari sang ibunda. Jadi, jangan pernah remehkan doa seorang ibu ya...
Ungaran, 21 Januari 2021





Comments