SENI BERTEMAN
- Aksara Loka

- Jan 26, 2021
- 3 min read
“Nad, boleh gak sih kita pilih-pilih orang dalam berteman?”, tanya Cika suatu ketika. “Tumben nanya begituan, Cik. Ada apa?’, aku balik bertanya ke Cika. “Gini, Nad, barusan aku dibilang sombong sama anak kelas sebelah, gara-gara aku nolak masuk UKM bareng mereka. Sebenernya aku gak masalah sih sama UKM nya, tapi kan aku udah terlanjur gak cocok sama personal merekanya. Attitude nya itu loh Nad, gak suka aku”, adu Cika. “Oh, gitu. Emang attitude apa yang kamu gak suka dari mereka?”, tanyaku lagi. “Banyak sih Nad, nih ya contohnya, mereka kalau lagi kumpul-kumpul, selalu bikin ribut, bar-bar gitu. Belum lagi mereka suka bikin UKM jadi alasan telat nugas, dll. Udah gitu, kalau mereka lagi ngumpul, gak pernah kelar ngomongin orang. Gimana aku mau gabung sama mereka. Terus mereka bilang, aku sombong sok jual mahal dan pilih-pilih temen”, ujar Cika kesal. “Hahaha, kamu gak suka sama mereka karena mereka suka ngomongin orang, lah ini, barusan kamu juga ngomongin mereka loh Cik”, godaku. “Iiiih, Nadiii, kan aku lagi ceritain kronologinya”, pekik Cika membela diri. “Iya-iya, paham”, jawabku cepat, sebelum Cika makin menjadi-jadi.
“Cik, kalau menurutku nih ya, kamu bukannya pilih-pilih, hanya selektif aja sih, dan itu gak papa. Orang kalau cari barang aja, mesti selektif. Mau makan, mesti selektif. Masa iya, lingkaran pertemanan asal-asalan? Tentang sok jual mahal, emang harga diri manusia kan mahal, masa iya cari yang diskonan, kita bukan pajangan barang akhir tahun, yang terusan diobral dengan diskon gede-gedean”, ujarku sambil terkekeh. “Lagian nih ya Cik, Ali bin Abi Thalib, pernah menasehati anaknya, Hasan bin Ali tentang aturan dalam berteman atau bersahabat. Setidaknya ada empat patokan paten dalam seni berteman.
1. Jangan berteman dengan orang bodoh. Ia akan membahayakanmu. Mungkin di banyak hal ia ingin membantumu, tapi dengan kebodohannya, justru kamu yang akan terjebak pada situasi yang tidak mengenakkan.
2. Jangan berteman dengan orang pelit. Orang pelit tidak akan mau membantumu dengan apapun, entah harta, pikiran, atau hal-hal yang lain. Berteman dengan orang pelit tidak akan memberimu keuntungan apapun, yang ada, ia justru menjauhkanmu dari apapun yang tengah kamu butuhkan.
3. Jangan berteman dengan orang yang tidak bermoral (berakhlak rendah), karena ia hanya akan memberikan pengaruh buruk dan membuatmu sama dengannya.
4. Jangan berteman dengan pembohong, jangan pernah percayai kata-katanya, jangan berpegang pada janjinya. Ia hanya akan memusuhimu, apapun yang dikatakan hampir selalu berseberangan dengan kenyataan yang ada. Ia yang tampaknya akan terus mendukungmu, namun kenyataannya justru ia yang akan menjatuhkanmu.
“Yes”, sorak Cika tiba-tiba. “Kenapa Cik?”, tanyaku heran. “Aku merasa pintar Nad-Nad, aku menolak berteman dengan mereka, karena mereka persis masuk ke empat kriteria itu, hahaha”, jawab Cika girang. “Cik, sebaik-baik teman adalah yang mampu menunjukkanmu pada kebaikan. Jadi selama temanmu hanya membawa pengaruh buruk untukmu, sudah dapat dipastikan ia bukan teman yang baik, dan tak layak menyandang predikat sahabat”, kataku. “Sebenarnya, kita tidak perlu bertanya tentang seseorang ‘siapa dia atau bagaimana perangainya’, cukup tanyakan siapa saja temannya. Karena sesungguhnya teman akan selalu mengikuti siapapun yang ditemaninya”, kataku lagi.
“Duh, Nadiii, aku jadi takut berteman sama kamu”, tukas Cika cepat. Sontak aku sangat terkejut karena aku, Cika dan Rara sudah bersahabat sangat lama. Dengan tak sabar, aku pun bertanya: “Memang kenapa Cik?” dan dengan santainya, Cika menjawab: “Karena kamu doyan banget makan dan ngemil Nad-Nad, jadi pasti semua orang berfikir kalau aku juga tukang makan kayak kamu”. Gemas dengan jawaban Cika, aku pun mencubit lengannya kuat-kuat. Tak lama kemudian, pekik kesakitan Cika memenuhi seantero kantin siang ini. “Astaghfirullah Nadiiiii, ini KDRT namanya. Rara mana Rara, mau aku minta ditemenin visum. Pasti biru-biru deh setelah ini”. “Biar semua orang tau, kalau Cika sama gaharnya dengan Nadi”, tawaku lepas.
Ungaran, 26 Januari 2021





Comments