SATU DEKADE MENJADI GURU
- Aksara Loka

- Jan 29, 2021
- 4 min read
Aku memulai karirku sebagai seorang guru, tepat setelah aku lulus SMA, asrama kaderisasi pendidik (Kulliyatu-l-Mu’allimat al-Islamiyyah), mahasiswi guru, begitulah status yang tersemat padaku. Mengajar di pagi hari dan belajar di sore hingga malam hari. Terdengar sulit jika harus dijabarkan, namun aku merasa saat itulah saat-saat penuh kebahagiaan dengan waktu yang hampir tak pernah kusia-siakan, ya, hampir semua waktuku produktif di sana. 2011 menjadi tahun awalku sebagai guru baru, aku merasa sangat naif dengan merasa bahwa aku telah mengetahui segalanya. Terbuai karena seumur hidupku bersekolah, aku sering mendapatkan kelas yang prestis. Awalnya aku menjadi asisten wali kelas 3 SMP dengan abjad E, kelas pertengahan. Aku yang lebih menyukai memahami pelajaran dan mencernanya dengan caraku sendiri, jelas tak menyukai metode hafalan. Sedangkan tingkat SMP mereka lebih menyukai cara belajar dengan menghafal tanpa mementingkan pemahaman secara mendetail, membuatku melihat dunia yang lain dari belajar. Aku belajar dari mereka bahwa dalam keterbatasan waktu mereka dalam memahami sesuatu, mereka tutupi dengan kecepatan hafalan yang mereka miliki.
2012 aku kembali menjadi asisten wali kelas, kali ini kelas 1 SMA dengan abjad D, sebenarnya tak jauh berbeda dengan asistensi tahun sebelumnya, karena beberapa anggota di kelas ini, adalah anak-anak dari kelas 3 SMP E juga. Tapi, ada satu hal baru yang kupelajari, mereka tampak jauh lebih dewasa. Karena aku masuk asrama ini selepas lulus SD, sedangkan mereka masuk asrama ini setelah menyelesaikan pendidikan SMP mereka, jadi wajar jika mereka tampak lebih dewasa dalam bersikap, dan aku mengagumi itu.
2013 aku diberi kesempatan untuk menjadi wali kelas 2 SMP dengan abjad H, nyaris kelas akhir. Kini, aku mendapatkan 3 orang asisten wali kelas yang luar biasa. Pada tahun inilah aku belajar banyak, menjadi guru tak hanya sekedar menyampaikan materi baru di dalam kelas, namun jauh lebih dari itu, terlebih dengan status wali kelas yang baru saja kusandang. Kelas 2 SMP masihlah sangat kecil di sekolah asrama ini, dan aku dituntut untuk dapat memerankan peran sebagai guru, wali kelas, bahkan ibu sekaligus bagi mereka. Bagaimanapun mereka baru 2 tahun terpisah dari orang tua mereka, dan sebagai orang yang pernah berada di posisi mereka, aku dapat memahami perasaan mereka dengan sangat baik, sehingga aku merasa bisa melakukan tugasku sebagai wali kelas dengan baik. Meski kadang aku merasa canggung jika harus dihadapkan dengan sikap manja mereka, rengekan, bahkan tangisan mereka kala masalah menimpa mereka. Ah, masa itu, aku benar-benar belajar menyelami sisi lain dari diriku.
2014 aku kembali diberi kesempatan untuk menjadi wali kelas, kali ini kelas 2 SMA, namun yang mencengangkan adalah abjad kelas yang kudapat. Ya, kali ini aku mendapatkan abjad kelas terakhir, yang didominasi oleh anak-anak yang pernah tinggal kelas di tahun-tahun sebelumnya. Seketika, aku merasa sangat takut dan khawatir, mengingat tahun ini juga aku akan berhadapan dengan tugas akhir, skripsiku. Dukungan, doa, dan motivasi dari banyak teman, guru dan orang tua, membuatku optimis untuk mengupayakan apa yang kubisa. Di tahun inilah aku sangat-sangat belajar, bagaimana seorang guru tak dapat memaksa muridnya untuk segera memahami apa yang diajarkannya. Aku belajar menyederhanakan bahasaku dalam menjelaskan, dan mereka adalah guru terbaikku untuk itu. Dengan mereka, aku belajar bahwa nilai akademik adalah ambisi sang guru, melupakan bahwa yang tengah berjuang mengerjakan adalah mereka, para murid. Jangan lupakan 3 orang asistenku yang luar biasa membantuku melengkapi semua kekuranganku. DI tahun ini, aku bahkan menempatkan mereka, anak-anakku sebagai prioritas utamaku, di atas tugas akhirku sebagai mahasiswi. Aku percaya bahwa doa tulus mereka akan membuat proses penyelesaian tugas akhirku mudah. Aku meyakini, bahwa saat aku mempermudah urusan orang lain, Allah akan mempermudah segala urusanku. Dan bukti itu nyata. Doa mereka benar-benar membuatku dapat menyelesaikan tugas akhirku hanya dalam kurun satu minggu. Sebuah pencapaian yang bahkan tak pernah terbayang olehku. Dan yang membuatku lebih terharu sekaligus bangga pada mereka dan diriku sendiri adalah kala aku mengetahui untuk pertama kali dalam sejarah, bahwa anak-anak yang duduk di abjad kelas paling akhir dapat naik ke kelas selanjutnya tanpa ada satupun yang tinggal kelas. Itu adalah kado terindah sepanjang hidupku.
2015 aku bermimpi untuk kembali bersama anak-anakku, membersamai mereka di kelas 2 SMA, menyaksikan mereka membuat pagelaran seni kebanggaan mereka. Tapi mimpi itu harus terhenti, karena pimpinan sekolah asrama mengirimku ke salah satu cabangnya di luar Jawa, tepatnya di Poso, Sulawesi Tengah. Pupusnya harapanku membersamai anak-anakku menjadi sebuah harapan baru untuk melihat anak-anakku yang lain di Poso. Ya, aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi wali kelas 1 SMP di sana, bayi asrama jika bisa diungkap. Sebuah pengalaman baru di tempat yang baru juga, membuat semangatku kian berkobar, tak sabar untuk mencobanya. Di Poso lah aku seperti kembali belajar dari awal, mengenali bagaimana karakter murid di Jawa dan di Poso sangat jauh berbeda, fasilitas yang ada pun sangat terbatas jika dibandingkan asrama di Jawa. Aku merasa menjadi orang yang paling tak tahu caranya bersyukur, dan Allah ingatkan aku di sana. Bersama kawan-kawan guru di sana, yang juga juniorku kala masih berada di asrama di Jawa, kami banyak belajar dari anak-anak kami di sana. Belajar untuk berhenti membandingkan satu dengan yang lain, berhenti mengeluhkan keadaan, mulai mensyukuri apa yang ada, dan mulai memberikan apa yang kami punyai, segalanya, dari waktu hingga pikiran semuanya kami curahkan pada anak-anak kami di sana. Semoga mereka menjadi jauh lebih baik dari kami.
2016 hingga hari ini, aku masih menjadi seorang guru, dan makin hari aku merasa bahwa masih sangat banyak hal yang belum aku mengerti. Terlebih setahun terakhir ini, dimana semua proses belajar mengajar dilakukan secara daring, jelas jika metode yang digunakan juga sangat berbeda. Aku kembali belajar, bagaimana melakukan pembelajaran jarak jauh secara efisien. Mengikuti banyak seminar berbasis online (webinar), juga menjadi salah satu caraku melakukan pengembangan atas diriku. Beberapa pelatihan berbasis online juga tak luput dari incaranku, bagaimanapun seorang guru adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti ‘never ending process’, karena keilmuan selalu terbarui, bagaimana mungkin guru anti pada perubahan, sedang ia adalah agen perubahan itu sendiri. Metode mengajar pun tak dapat disamakan dengan yang lalu-lalu, bukankah para guru adalah pendidik generasi saat ini, bukan generasi masa lalu. Anak-anak hari ini memiliki tantangan mereka sendiri, dan guru lah yang menyiapkan mereka agar siap menaklukkan tantangannya. Jika masih menggunakan cara lama, bukankah hanya akan menjebak anak pada lorong waktu masa lalu? Guru, digugu lan ditiru, semua pada diri guru adalah contoh dan teladan. Maka, jika orang lain boleh salah, maka haram hukumnya bagi guru untuk salah. Kesalahan guru akan menimbulkan efek domino salah pada murid-muridnya. Semoga para guru selalu diberikan kesehatan dan semangat yang terus berkobar demi terus mencerdaskan anak bangsa.
Ungaran, 28 Januari 2021





Comments