top of page
Search

PEREMPUAN WAJIB BERDAYA

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 30, 2021
  • 6 min read

Menulis cerita tentang Ibu, membawaku pada seorang wanita, mantan wali murid anak didikku, yang juga tinggal sedusun denganku. Bu Mei namanya. Hari itu, ia mendatangi rumahku dengan wajah sendu, persis saat pertama kali ia bertandang ke rumahku dua tahun yang lalu. “Mbak, bisa pinjam uang seratus ribu?” ujarnya sesaat setelah aku mempersilakannya duduk di ruang tamu rumahku. “Bisa. Kalau boleh tahu untuk apa ya?” tanyaku tanpa basa-basi. “Gini Mbak, dalam seminggu Saya punya tanggungan hutang satu juta, Saya terlilit pinjaman pada bank minggon (mingguan), Mbak”, ucapnya sedih. “Duh, banyak banget Ibu Bu”, kataku lagi. “Iya Mbak, Saya pinjam uang Mbak, untuk bayar yang hari Senin. Gak tahu lagi untuk hari Selasa, Kamis dan Jum’at. Tagihan Saya di hari Senin 350.000, Selasa 300.000, Kamis 250.000, Jum’at 100.000. Jujur Saya pusing Mbak”. “Suami Ibu tahu gak, kalau Ibu punya tanggungan segini besarnya?”, tanyaku lagi. “Dia tahu Saya minjem Mbak, cuma dia gak tahu kalau hutangnya sudah segini banyaknya. Tiap malam Saya gak pernah bisa tidur, Mbak, selalu kepikiran besok ada yang datang untuk nagih hutang dan Saya belum punya uang”, adunya.

Aku hanya sedikit menyinggung tentang suaminya, dan tanpa aku tanya, ia menceritakan awal mula bertemu dengan suaminya. “Saya menikah dengan suami Saya, pas setelah Saya lulus SMA, Mbak. Saya cinta banget sama dia, Mbak tahu sendiri kan kalau suami Saya ganteng. Saya bangga waktu itu Mbak, bisa lebih dulu nikah dibanding temen-temen Saya yang lain. Saya udah laku, sedang banyak temen Saya masih pada kerja di pabrik, belum menikah. Orang tua Saya juga senang, karena Saya sudah nikah tanpa harus menyandang status perawan tua. Wis mentas istilahe Mbak, wis ora ngaboti wong tuwo”, cerita Bu Mei sambil mengenang masa-masa awal ia menikah dengan suaminya. “Suami Saya seorang sopir truk tronton antar kota Mbak, sering banget keluar kota. Uangnya banyak, jadi Saya gak perlu capek-cepek kerja kayak temen-temen Saya yang lain”, sambungnya. “Sampai kemudian Saya hamil Nando, Mbak. Kami bahagia, apalagi hasil USG menerangkan bahwa janin yang Saya kandung adalah laki-laki. Wah luar biasa senang, suami Saya Mbak. Cucu pertama bapak Saya adalah laki-laki. Semuanya bahagia waktu itu, Mbak. Nah, ketika jelang melahirkan, ada masalah dengan kandungan Saya, yang membuat Saya gak bisa lahiran normal, harus caesar. Lha itu Mbak, masalahnya mulai berdatangan. Saya dicap manja karena gak mau lahiran normal, malah milih caesar, yang biayanya banyak banget. Kan jaman itu belum usum BPJS dari pemerintah to Mbak. Mertua Saya bilang Saya ngabis-ngabisin duit suami Saya saja Mbak, mentang-mentang dia banyak duit”, ceritanya pilu.

“Hari Saya lahiran, mau tidak mau lewat caesar Mbak, Saya mengalami pendarahan hebat, sampai tak sadar dua hari, Mbak. Saya trauma dengan semua itu. Saya udah gak mau lagi hamil, karena persalinannya itu menyakitkan. Kan, katanya kalau lahiran pertama sudah caesar, selamanya gak bisa lahiran normal. Lha, mau berapa kali Saya dikata-katain manja, karena harus lahiran caesar. Setelah melahirkan Nando, Saya bilang ke suami Saya, Mbak, kalau Saya gak mau hamil lagi. Waktu itu dia cuma bilang ‘yo wis rak popo’. Oh, iya Mbak, suami Saya itu perokok berat, suka minum, dan hobi main cewek, Mbak. Ya gimana ya Mbak, wong pancen ganteng de’e. Kan memang supir suka minum ya Mbak, biar badannya seger terus dan gak cepet capek, apalagi dia kan supir antar-kota”, lanjut Bu Mei. “Tanpa Saya ketahui Mbak, ternyata dia punya istri lain selain Saya, ada dua perempuan lain yang jadi istrinya. Yang satu di Bergas, satu lagi di Pudakpayung. Kalau sekadar main cewek, ya Saya biarin aja Mbak, tapi ini sampai dinikahi sama dia. Pantesan uang bulanan yang dikirim ke Saya jumlahnya makin berkurang. Kata dia karena proyeknya sedang banyak macet, tapi waktu Saya tanya ke temennya yang juga supir sama kayak suami Saya, dia bilang proyek suami Saya lancar-lancar saja Mbak, mungkin karena mesti dibagi sama dua istri dia lainnya. Tapi Saya bisa apa Mbak, yo isoku mung nangis tok, Saya gak berani minta cerai juga Mbak meski Saya merasa dikhianati, nanti bakal jadi bahan omongan tetangga, dan Saya mau hidup dari apa kalau Saya cerai, wong Saya gak pernah kerja juga”, kata Bu Mei.

“Setelah itu, fokus Saya hanya ke Nando, Mbak. Apapun yang diminta Nando, pasti akan selalu kabulkan. Meskipun susah, pasti Saya upayakan, Saya gak mau Nando benci Saya, Mbak. Makanya waktu itu, ketika tahu Nando gak naik kelas, Saya sedih dan takut. Takut kalau Saya dimarahi suami Saya, Mbak. Tapi akhirnya suami Saya tahu kalau Nando gak naik kelas, dari bapak Saya, karena yang ambil rapot Nando waktu itu, kan bapak Saya. Dan benar saja, Saya ditampar suami Saya, dibilang gak bisa ngurus anak. Terus dia minta Saya mendatangi Mbak waktu itu, dan memohon, berapapun akan Saya bayar asalkan Nando bisa dinaikkan kelas. Tapi karena Mbak gak bisa bantu, makanya Nando minta pindah sekolah. Dia malu karena gak naik kelas, jadi Saya kabulkan permintaan dia pindah ke SMK yang lain. Tapi sama saja Mbak, Nando tetap sering bolos sekolah, padahal sudah Saya turuti kemauan dia. Dari motor baru, hape baru, sampai uang jajannya Saya naikkan, Mbak. Jajannya Nando sehari itu lima puluh ribu, Mbak, kalau gak dituruti dia kabur dari rumah, kayak waktu itu. Dan Saya gak mau itu terulang”,ujar Bu Mei. Dan aku, hanya terdiam, bingung mau menanggapi dengan apa. Hingga tiba-tiba aku teringat akan sesuatu.

“Terus, awal mula Ibu kenal sama bank mingguan itu gimana, pinjam untuk apa sih, Bukannya tiap pinjem bank selalu ada agunannya ya? Itu sampai pinjam ke empat bank, apa yang Ibu agunkan?”, tanyaku penasaran. “Saya gak tahu waktu itu pikiran Saya kemana, Mbak. Suami Saya tiap ada masalah selalu datang ke Saya, giliran seneng-seneng ke istrinya yang lain. Waktu itu hape suami Saya hilang Mbak, Bukan hanya punya suami Saya, tapi semua teman sopir suami Saya tiga orang, hape nya juga hilang, dicuri orang, waktu sedang istirahat. Terus, dia minta Saya untuk membelikan hape baru yang bagus, karena Saya tawari untuk pakai hape Saya, dia bilang, kalau hape Saya jelek, dan dia gak mau pakai, Mbak. Karena sudah tidak ada yang bisa dijual lagi, maka Saya mulai hutang bank minggon, awalnya Saya pinjam ke lima bank minggon Mbak, tapi yang satu sudah selesai, jadi tinggal empat. Saya pinjam masing-masing 500.000, karena kalau pinjam 500.000, yang Saya terima kan hanya 450.000. Jaminannya buku nikah, Mbak. Itu aja, pakai buku nikah duplikat, karena KTP asli dan buku nikah Saya yang asli sudah ditahan renternir, karena Saya gak bisa bayar waktu pinjem uang untuk belikan Nando motor Mio dia yang warna putih itu lho Mbak”, ujarnya. “Tapi sekarang Saya bingung, gimana balikinnya. Kemarin Saya sempat pasang togel, tapi ternyata Saya gak mujur Mbak, jadinya malah Saya rugi, padahal itu uang terakhir Saya. Akhirnya, untuk masak dan makan, Saya minta bapak Saya. Terus kemarin ada teman Saya ngajak pesugihan juga Mbak, dan sedang Saya pikir-pikir lagi. Saya takut stress dan bunuh diri seperti teman Saya di desa sebelah Mbak, dia nekat Bunuh diri, dengan cara gantung diri di kamar mandi, karena gak kuat ditagih bank minggon”, cerita Bu Mei.

“Ibu gak coba cari penghasilan sendiri, di luar dari mengandalkan jatah bulanan dari suami Ibu?” tanyaku hati-hati. “Saya sudah pernah coba kerja Mbak, waktu musim panen cengkeh di perkeBunan, satu hari Saya dibayar 30.000, karena memang tenaga pocokan. Saya berangkatnya jalan kaki, Mbak, jauh. Belum mulai kerja Saya sudah kecapekan. Kadang kalau bapak Saya di rumah, Saya diantar beliau naik motor, karena memang suami Saya jarang di rumah Mbak, kerja luar kota terus. Nando juga gak di rumah, dari subuh sudah main sama temannya, paling di rumah kalau uang jajannya habis”, tukas Bu Mei prihatin. “Begitu panen sudah selesai, Saya cari kerja yang lain, Mbak. Saya sempat kerja di tempat produksi roti rumahan, tapi karena pandemi dan permintaan dari pasar menurun, maka Saya tidak lagi dipekerjakan di sana. Tidak ada pemasukan, tapi pengeluaran ada terus, jadinya Saya berhutang ke bank minggon, dan hampir warga satu RT dengan Saya, sudah Saya pinjam uangnya, untuk membayar tagihan bank minggon itu”, kata Bu Mei sambil terisak.

“Bu, ini untuk Ibu, semoga dapat sedikit membantu. Tidak usah dihitung hutang ya”, ujarku sambil mengulurkan tiga lembar uang seratus ribuan. “Terima kasih banyak, Mbak. Semoga Allah melancarkan rezeki Mbak dan keluarga”, ucap Bu Mei dengan mata berkaca. “Aamiin, terima kasih banyak untuk doanya ya Bu, semoga masalah Ibu segera selesai ya”, kataku. Dan setelah menerima pemberianku, Bu Mei segera berpamitan pulang. Tak lama setelah Bu Mei berlalu dari hadapanku, banyak hal berkecamuk dalam pikiranku. Bagaimana menikah bukanlah satu hal yang dilakukan tanpa persiapan, Bukan tentang bagaimana pesta pernikahan itu digelar, lebih dari itu, tentang bagaimana perempuan harus tetap berdaya, mandiri secara ekonomi, sehat jasmani dan rohani. Bagaimana ia mempersiapkan blue print untuk kehidupan pasca menikah. Saling mengenal calon teman hidup. Belajar ilmu parenting. Belajar literasi keuangan. Bagaimana menjadi sosok pendamping hidup, bukan sekedar numpang hidup dan berharap untuk terus dihidupi. “Duh, siapa lagi yang akan peduli dengan nasib perempuan, kalau bukan dari sesama perempuan? Dan dari satu kasus ini, aku mendapatkan sebuah gambaran, bahwa keadaaan perempuan di sekitarku masih sangat butuh pada sosialisasi, pelatihan-pelatihan, dan motivasi agar terus optimis menjalani kehidupan.

Ungaran, 24 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page