top of page
Search

PENDIDIKAN AKHLAK

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 26, 2021
  • 4 min read

“Ken itu, di rumah kerjaannya cuma main game terus, makanya nilai rapot dia jeblok semua kayak gini”, kata mama Ken pada mama Zoe, saat keduanya mengambil rapot anaknya. “Untung saja Zoe tidak seperti itu, karena aku udah sering bilang, kalau dia gak mau nurut ke papa mamanya, kami gak mau urus dia, kalau gak mau jadi anak penurut, bakal dikirim papanya ke pesantren, lulus SMP ini. Biar nanti diurus sama pengurus pesantren”, sahut mama Zoe. “Ken, sesekali kamu jadi anak yang berguna, dong, jangan sukanya bikin mama malu aja. Tuh liat, Zoe, nurut kan sama papa mamanya, lha kamu, tiap dipanggil mama, gak pernah dateng, cuma game doang yang kamu urusi. Pantes aja kamu jadi bodoh, nilai jeblok semua kayak gini. Mau jadi apa kamu kalau udah gede?”, marah mama pada Ken.

Ken yang baru saja sampai ke mamanya, setelah menyapa teman-temannya, seketika merasa sangat sedih dan hancur. Matanya mulai berkaca, sepertinya, tak lama lagi air matanya akan tumpah, jika sang mama tak berkata “Duh, Ken, kamu mau nangis? Anak cowok mau nangis? Dih, kayak anak cewek aja sih. Gak usah nangis, malu-maluin aja”, ujar mama sinis. Ken hanya mampu mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, menahan semampu yang ia bisa lakukan agak air matanya tak jatuh di depan sang mama. Zoe, hanya mampu melihat Ken dimarahi mamanya, tanpa tahu harus berbuat apa untuk membantunya. Karena ia pun sama, membantu Ken hanya akan membuatnya terjebak masalah baru, maka ia memutuskan untuk diam saja.

Di dalam mobil mamanya, Ken diam seribu bahasa. Tak berani bersuara apapun, karena ia tahu makin ia bersuara, sang mama akan makin memarahinya. ‘Ting’, sebuah pesan masuk ke handphone sang mama, tak lama berselang, sang mama membuka suara “Ken, kamu melakukan kebodohan apa lagi? Sampai mama dipanggil Miss Fifi, guru BK sekolahmu”, ujar mama sebal. Alih-alih menjawab, Ken memilih untuk diam saja, karena sejujurnya ia tak tahu apa kesalahannya, meski dalam hati, ia pun merasa khawatir. Karena Miss Fifi tidak pernah memanggil orang tua, jika si anak tak tersandung masalah serius di sekolah.

Keesokan harinya, sang mama sudah berada di ruang konseling milik sekolah, menunggu Miss Fifi yang tengah megambil data Ken dari sebuah lemari penyimpanan. “Apa yang sudah dilakukan anak bandel yang bodoh itu, Miss?”, tanya mama Ken pada Miss Fifi. Bukannya menjawab, Miss Fifi justru balik bertanya “Apakah anda sering mengatakan hal itu pada Ken?”. “Hal apa?”, tanya mama Ken tak paham. “Kata-kata seperti bandel, bodoh, dll”, sambung Miss Fifi. “Iya, karena memang itu kenyataannya, Miss. Anak itu susah sekali dinasehati. Tidak pernah mau nurut dengan mamanya, ia hanya mau mendengarkan papanya, sedang papanya jarang sekali di rumah, karena sibuk dengan kasus klien yang sedang ditangani, maklum pengacara”, adu mama Ken.

“Maafkan saya jika terdengar lancang, Bu. Namun, kasus Ken kali ini sepertinya berkaitan erat dengan keadaan di rumah ibu. Ken sering sekali berkata kasar pada teman-teman, bahkan gurunya sendiri. Seakan ia sudah terbiasa mengatakan kata-kata itu. Di sesi konseling sebelumnya, saya pernah memanggil Ken ke ruangan ini juga. Saat itu, ia sudah akan menangis, hanya sekuat tenaga ia tahan, saat saya minta untuk menumpahkan saja tangisnya, ia menjawab ‘pantang bagi laki-laki untuk menangis’, apakah ibu juga yang mengajarkan pada Ken bahwa laki-laki pantang untuk menangis?”, tanya Miss Fifi, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh mama Ken. “Saya hanya ingin yang terbaik untuk Ken, Miss. Saya sudah sering mengatakan padanya untuk bertutur kata yang santun, berlaku sopan, taat pada mereka yang lebih tua. Rasanya mulut saya tak pernah bosan mengatakan itu padanya, kenapa ia tak juga paham? Apakah Ken sebegitu bodoh, sehingga tak memahami perkataan mamanya?”, ujar mama Ken. “Bu, selamanya anak-anak tak akan pernah baik dalam mendengarkan orang dewasa, namun anak tak akan pernah gagal meniru perilaku dewasa di sekitarnya. Bukan Ken yang tidak paham, tapi ia dengan sangat tepat meniru setiap gerak dan suara yang ia lihat dan ia dengar di rumahnya”, ujar Miss Fifi. “Pendidikan akhlak dan mental tidak akan cukup hanya dengan ceramah, namun harus dengan keteladanan yang utama dan penciptaan miliu yang kondusif. Sehingga semua apa yang dilihat dan didengar oleh anak, berupa gerakan dan bunyi-bunyian di manapun anak berada, menjadi bagian dari faktor pendukung pendidikan”, ujar Miss Fifi lagi.

Mama Ken hanya mampu terdiam, menyadari kesalahannya selama ini. Ia tak mengira, bahwa semua yang dilakukannya, bukannya berdampak baik bagi Ken, namun justru sebaliknya. Ia yang membuat Ken-nya menjadi seperti saat ini. Belum puas rasanya ia merenungi sikapnya, Miss Fifi berkata lagi “Bu, tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada Ken, yang sudah menyumbangkan seluruh hadiah turnamen game nya minggu lalu untuk membantu korban bencana alam di Kalimantan Selatan. Ken menjadi satu-satunya siswa yang memberikan sumbangan paling besar untuk membantu korban bencana alam, melalui sekolah”. Bak disambar petir di siang bolong, mama Ken makin terdiam, dengan air mata yang mulai merebak. Ia tak tahu bahwa sekolah Ken menggalang dana untuk membantu korban bencana alam. Ken tak memberitahunya. Ia hanya ingin segera sampai rumah, menemui Ken-nya, dan memeluknya erat, seraya mengatakan betapa ia mencintai dan bangga pada Ken-nya. “Baik Miss, pasti saya sampaikan. Terima kasih sudah mengundang saya ke sekolah. Saya mohon pamit”, ucap mama Ken, yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum ramah dari Miss Fifi.

Ungaran, 25 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page