top of page
Search

METAMORPHOSIS UPIK ABU

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 14, 2021
  • 4 min read

Kerudung kucel, check. Muka kusem, check. Baju kusut, check. Gak paham apa itu cantik. Mantra andalan adalah “yang penting bersih dan wangi”. Mungkin sempat bertanya-tanya, itu manusia apa parfum laundry? Begitulah kira-kira gambaran tentangku belasan tahun yang lalu. Anak baru lulus SD, yang hadiah kelulusannya justru sebuah koper. Tamat SD, diminta tarik koper dan angkat kaki dari rumah. Mondok!

“...pelajaran kita hari ini adalah Nisaiyyah (keperempuanan)”, kata ustadzahku saat itu. Anak piyik yang baru saja meninggalkan zona nyamannya, mulai bingung dengan pelajaran kali ini. Ini pondok putri, semua santrinya perempuan, semua gurunya perempuan, dan masih butuh pelajaran tentang perempuan??? Belum habis rasa bingung itu, tiba-tiba “Nadi, coba maju ke depan, dekat ustadzah”, suara ustadzah Dewi membuyarkan semua lamunan bingungku. Penuh percaya diri, aku maju ke depan, mendekat pada sosok ustadzah Dewi. “Nadi, kamu tau gak, cantik itu apa?” tanya ustadzah padaku. “Emang cantik apa, ustadzah?”, bukan menjawab, aku justru balik bertanya pada ustadzahku. Beliau tertawa lepas, tulus dan cantik. “Al-jamaalu fi-t-tanaasub, cantik itu ada dalam kesesuaian, keserasian”, kata ustadzah Dewi saat itu. Tak begitu paham apa maksudnya, hanya tiba-tiba beliau merengkuhku mendekat, merapikan kerudungku, mengancingkan dua kancing di pergelangan tangan pada seragamku, membenarkan rok sekolahku yang miring. Tak kusadari, mataku mulai berkaca, teringat ummi di rumah. Biasanya ummi lah yang melakukan ini padaku.“Nak, karena cantik itu ada pada kesesuaian dan keserasian, maka, dengan menjadi rapi juga membuat anak-anak makin cantik”, ujar ustadzah Dewi setelah merapikan penampilanku.

Esoknya, sepulang sekolah, aku dan teman-temanku masing-masing mendapatkan memo dari ustadzah Dewi, yang kurang lebih isinya sama. Kami diminta untuk merapikan almari, membeli parfum, cairan pembersih muka, kapas, dan bedak. Karena hampir semua mendapatkan memo yang sama, maka kami memutuskan untuk pergi berbelanja di koperasi santriwati bersama-sama. Setelah semua benda yang diminta ustadzah Dewi berhasil kami dapatkan, ditambah beberapa cemilan yang kami beli, segera kami kembali ke asrama. Almari sudah kubereskan, dengan anggota baru yang baru saja kususun, yaitu benda-benda pesanan ustadzah Dewi yang kini sudah tersusun rapi di dalam almari di samping tumpukan lipatan kerudung. Kupandangi benda-benda asing yang baru saja kubeli, sambil bergumam “untuk apa sebenarnya semua benda-benda ini?”. Aku bertekad akan menanyakannya pada ustadzah Dewi nanti malam, saat beliau mengisi kegiatan supervisi rutin di asramaku.

“Sekarang, coba parfumnya dikeluarkan, ustadzah mau lihat, siapa yang sudah membeli parfum”, ujar ustadzah Dewi saat supervisi di asramaku. Serentak kami semua mengeluarkan botolan parfum dari almari dengan rasa bangga, meski belum tahu untuk apa. “Parfum ini kan baunya wangi, untuk dipakai setelah mandi ya nak”, kata beliau. “Loh ustadzah, kenapa mesti pakai parfum, kan habis mandi kita sudah wangi, kan sabun mandinya sudah wangi?”tanyaku tak sabar. “Benar nak, sabun mandi memang sudah wangi, tapi fungsi sabun adalah untuk membersihkan badan, membuat wangi di badan, maka parfum ini tidak digunakan untuk badan, melainkan di pakaian yang kalian kenakan setelah mandi”, dengan penuh kesabaran beliau menjalskannya padaku. “Ustadzah, kalau sudah ada parfum, kita tidak perlu mandi lagi ya? Kan sudah wangi dari pakaian kita”, tanya seorang temanku. “Nak, mandi itu sangat penting, kan setelah kita seharian beraktifitas, berkeringat, badan akan menjadi kotor dan bau. Maka, dibersihkan dan disegarkan kembali dengan mandi”, dengan telaten ustadzah Dewi menjawab pertanyaan para santri. “Jangan pakai parfum saat berkeringat ya nak”, pesan beliau. “Lho, kenapa tidak boleh ustadzah, kan keringat bau, dan parfum wangi, kalau dipakai saat berkeringat, kan bau keringat jadi tidak tercium?”, pertanyaan lainnya kembali terlontar untuk ustadzah Dewi. “Karena bau keringat yang tercampur dengan wanginya parfum justru akan membuat orang sekitar merasa pusing dan mual nak. Coba bayangkan, ada dua bau yang hadir bersamaan, dan tercium bersamaan. Tapi bukan berarti mencium bau keringat itu enak lho ya”, kelakar ustadzah Dewi.

“Ustadzah, untuk apa kita mesti pakai bedak juga?”tanyaku memutus bahasan tentang parfum. “Selain untuk membuat Nadi makin cantik, bedak juga membantu melindungi kulit wajah dari paparan sinar matahari secara langsung, supaya kulit wajah tidak belang nak”, jawab beliau sambil mengelus puncak kepalaku. “Eh, memangnya wajah Nadi belang ya ustadzah?” tanyaku sambil membuka pintu almari, dan bercermin pada kaca yang tertempel di sana. Belum sempat ustadzah Dewi menjawab, aku sudah menjerit “Hiiii, kenapa kulit wajah Nadi mirip zebra cross, belang begini”. “Itulah kenapa Nadi perlu pakai bedak, bukan sekedar untuk cantik, tapi menyelamatkan wajah Nadi dari belang-belang begini”, jawab ustadzah Dewi sambil terkekeh.

“Nah ustadzah, kalau 2 botol dan kapas ini untuk apa?”tanyaku sambil menunjukkan botol susu pembersih, toner wajah, dan kapas. “Oh, kalau ini, dipakai untuk membersihkan wajah dari bedak dan debu-debu yang menempel di wajah. Baiknya digunakan sebelum mandi dan sebelum tidur” ujar ustadzah Dewi. “Dan yang dipakai lebih dahulu, adalah susu pembersihnya, ratakan ke seluruh bagian wajah, kemudian dibersihkan dengan kapas. Ambil kapas selanjutnya, tetesi dengan toner dan sapukan lagi ke seluruh area wajah, kalau wajah bersih, nanti jauh dari jerawat, nak” tambah ustadzah Dewi. “Allah sudah ciptakan makhluknya dengan sangat indah, sayang kan, kalau keindahan itu tidak dirawat. Jadi ini juga termasuk cara kita mensyukuri nikmat ciptaan Allah”, kalimat penutup dari ustadah Dewi mengakhiri sesi tanya jawab hal yang baru bagiku.

Esok harinya, setelah mandi, mengenakan seragam sekolah, menyapukan bedak di wajah dan memakai kerudung, aku mulai menyemprotkan parfum pada pakaian dan kerudungku, secukupnya. Karena kata ustadzah Dewi, pemakaian parfum tidak boleh terlalu banyak, bukannya wangi, justru membuat orang sekitar pusing dengan wanginya yang terlalu menyengat. Pagi ini, rasanya aku bukan seperti aku yang biasanya, aku merasa cantik setelah mengikuti pesan ustadzah Dewi. Seragam sekolahku pun sudah tak sekusut biasanya, karena mengikuti saran dari ustadzah Dewi, yaitu tidak memeras pakaian dan kerudung saat pencucian, dan saat kering, masih panas dari jemuran, harus cepat-cepat dilipat rapi, agar tidak kusut. Karena untuk menjadi cantik tidak cukup hanya dengan bersih dan wangi, tapi juga mesti rapi, sesuai dan serasi. Karena kata beliau, cantik itu ada pada kesesuaian dan keserasian.

Belasan tahun berlalu, dan kata-kata ustadzah Dewi masih terus terngiang di benakku, metamorfosis si upik abu telah terjadi padaku, melalui kesabaran dan ketelatenan beliau, Nadi bukan lagi perempuan kulit kusam, kerudung kucel, dan baju kusut. Nadi sudah menjadi cantik sesuai versinya. Sesuai dan serasi mutlak menjadi mantranya menggantikan mantra ‘yang penting bersih dan wangi’ yang dulu sempat dipegangnya. Meski begitu, dalam diri Nadi yang terdalam, definisi cantik adalah cantik perangai, tingkah laku, tutur kata dan berilmu. Seperti yang terangkum dalam sosok ustadzah idolanya, ustadzah Dewi.



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page