top of page
Search

MENANTI KARMA

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 24, 2021
  • 3 min read

“Nad, karma itu ada gak sih”, tanya Rara tiba-tiba. “Ada”, jawabku malas. “Ha? Yang bener Nad?”, pekik Rara tertahan. “Iya, beneran lah, kenapa mesti bohongan?”, masih dengan malas, aku menjawabnya. Ya, siklus bulanan benar-benar menghempaskan seluruh mood-ku ke dasar lautan. Hanya menunggu ada yang sedikit membuatku kesal, pastilah aku akan berubah menjadi monster yang siap menerkam orang hidup-hidup. “Nadiiii, coba kamu kasih penjelasan sejelas-jelasnya kalau memang karma itu ada”, rengekan Rara benar-benar membuat telingaku memanas. “Kapan-kapan aja lah Ra, lagi gak mood akunya”, tolakku. “Nadi, kamu kenapa sih, tumben banget moody parah kayak gini”, tanya Rara tercengang. “Siklus bulanan Ra, makanya jangan bikin kesal ya”, kataku. “Oh gitu, kalau aku traktir hazelnut latte dari Kala Coffee, masih bad mood gak nih?” goda Rara padaku. “Enggak”, jawabku cepat, mendengar hazelnut latte dari Kala Coffee, benar-benar membuat moodku berubah 180°. Membayangkan hangatnya hazelnut latte yang akan membasahi kerongkonganku, sudah cukup untuk membuatku riang tak terkira.

Kini, hazelnut latte dalam cup sekali pakai sudah tersedia di hadapanku. Kepulan asap yang membawa wangi khas hazelnut latte merasuki indera penciumanku, sontak membuatku menghirupnya dalam-dalam. “Ah, aroma yang menenangkan”, batinku. Terima kasih untuk aplikasi online yang memudahkan Rara menghadirkan segelas hazelnut latte favoritku di saat moodku sedang jungkir balik. “Jadi, sudah siap menjelaskan padaku, Nadi-ku sayang?” ucap Rara, membuyarkan lamunanku. “Tentang apa?”, tanyaku. “Tentang karma,Nadiiii, duh semoga siklus lemotmu gak hadir tiap bulan ya”, kata Rara sambil menepuk dahinya, gemas. “Eh, gak janji sih kalau itu”, jawabku sambil tertawa, “Memang kenapa, kok tumben kamu nanya soal karma?”, tanyaku pada Rara. “Gini Nad, kamu tau kan, kalau dari dulu, aku suka banget sama kuncir rambut. Bahkan dulu sering banget nyolong-nyolong punya kak Erna. Nah, hari ini, keponakanku si Ayu, anaknya kak Erna, suka banget diem-diem ngambilin kunciran aku, Nad. Makanya aku sempat kepikiran kalau karma itu beneran ada”, ujar Rara sambil mengunyah boba di mulutnya.

“Karma tuh, Ra”, kataku meledek Rara. “Nadiiii, udah deh, gak usah ngeledek terus, jelasin aja, buruan. Jangan bikin aku rugi udah nraktir kamu hazelnut latte super enak ini”, kata Rara, sebal. “Ra, konsep karma adalah semua hal yang dialami manusia, merupakan hasil dari perbuatan dan tindakannya di masa lalu, atau sekarang. Intinya, kalau kamu ngerti soal sebab-akibat, maka perbuatan kamu adalah sebab dan karma adalah akibatnya”, paparku sambil sesekali menyeruput hazelnut latte-ku. “Jadi, hari ini aku lagi kena karma dari sikap sering nyolong kunciran kak Erna jaman dulu, dan dibalas dengan kunciranku yang diem-diem diambilin sama si Ayu, ya. Nah, si Ayu ngerti ga tuh, kalau nanti dia bakalan dapat karma serupa?”, tanya Rara padaku. “Ayu umur berapa sih, Ra?” aku balik bertanya. “5 tahun kayaknya, Nad”, jawab Rara cepat. “Kemungkinan dia gak tau lah, kamu aja yang udah 20 tahun baru ngerti hari ini”, sindirku sambil tertawa. “Duh, iya juga ya. Terus gimana dong?”, tanya Rara lagi. “Sebagai tantenya, kamu meski kasih tau ke Ayu, kalau ngambil barang orang tanpa izin itu gak baik. Kalau memang mau barang tantenya mesti izin dulu. Ajari dia cara izin yang baik Ra”, tukasku. “Oke, Nad, ntar kalau aku ketemu lagi sama Ayu, bakal aku kasih tau, itu anak”, ucap Rara sungguh-sungguh.

“Ra, sebenarnya, kata Karma, memang populer di kalangan saudara kita Hindu dan Budha. Tapi bukan berarti konsep ini luput dari agama-agama lainnya. Dalam Islam misalnya, Tidak ada balasan dari kebaikan, selain kebaikan (juga) (QS Ar-Rahman:60), ...barang siapa yang telah melakukan kejahatan maka ia diberi balasan yang seimbang dengan apa yang yang dahulu mereka kerjakan (QS Al-Qashas:84) Barang siapa berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirinya juga, dan barang siapa berbuat keburukan, maka kerugian itu juga untuk dirinya sendiri. (QS Al-Isra:7) bukankah itu cukup membuktikan bahwa semua orang bertanggungjawab atas apa yang sudah diperbuatnya? (QS Al-Mudatsir:38), untuk itu Ra, jangan sampai ya kita bosan jadi orang baik, supaya hanya hal-hal yang baik juga yang kembali pada kita. Seperti kamu yang udah nraktir aku hazelnut latte favoritku ini, pasti akan datang waktu kamu akan ditraktir orang sesuatu yang jadi kesukaanku”, ujarku terkekeh. “Ah, belakangnya modus kamu aja kan Nad, supaya bisa sering-sering dapat hazelnut latte cuma-cuma”, tukas Rara sambil mencubit lenganku.

Ungaran, 24 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page