KOKO TANPA CICI
- Aksara Loka

- Jan 23, 2021
- 3 min read
“Bu, tolong siapkan baju koko ayah untuk jum’atan nanti ya”, ujar ayahku pada ibu. Biasanya percakapan itu terdengar biasa saja bagiku, sepertinya tidak berlaku untuk hari ini. Entah apa yang terjadi padaku dan otakku yang tiba-tiba kepikiran tentang ‘baju cici’, bukankah koko-koko Tionghoa itu, pasangannya cici-cici? “Bu, ibu punya baju cici gak sih?”, tanyaku spontan pada ibu, yang otomatis membuat ibu mengernyit tak paham. “Baju cici apaan sih, Nadi?, emang ada baju gituan?”, tanya ibuku gemas. “Lah kan ayah pakai baju koko untuk jum’atan, harusnya ibu juga pakai baju cici dong, kan pasangannya koko itu cici”, jawabku tanpa dosa. “Aduh!!!”, pekikku, karena ibu menyentil dahiku secara tiba-tiba. “Ibu ini, bukannya jawab malah main KDRT aja”, tukasku sambil lari menjauh dari ibu, karena melihat ibu sudah mengambil ancang-ancang untuk mencubit. Dan percayalah, cubitan ibu itu luar biasa pedas, panas, dan awet rasanya.
“Bu, Nadi kenapa tuh kok lari-lari sambil ketawa gitu?”, tanya ayah. “Ya gimana itu yah, anaknya suka nanya yang aneh-aneh. Kirain kebiasaan nanya aneh-aneh cuma terjadi waktu si Nadi kecil, ini udah gede masih aja awet, kebiasaan nanya aneh-aneh”, jawab ibu sambil geleng-geleng kepala. “Emang Nadi nanya apaan bu?”, tanya ayah lagi. “Nanya baju cici, pasangannya baju koko”, timpal ibu sambil menyerahkan baju koko ayah. “Hahaha, anak itu, tumben nanyain begituan”, ujar ayah sambil tertawa. “Coba panggil Nadi kemari bu, biar ayah yang jawab”, kata ayah. “Baik, yah”, sahut ibu.
“Nadiii, dipanggil ayah tuh”, kata ibu sambil membuka pintu kamarku. “Oke, bu”, jawabku singkat, sambil menutup novel yang tengah kubaca. “Ayah panggil Nadi?”, tanyaku saat menghampiri ayah di ruang keluarga. “Iya, kata ibu kamu nanyain baju cici pasangan baju koko ya?”, ujar ayah sambil tersenyum. “Iya, yah, kan pasangannya koko itu ya cici, kenapa ada baju koko, tapi Nadi gak pernah dengar ada baju cici ya?”, tanyaku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. “Kalau kamu mau tau tentang baju koko, kamu harus tau sejarah baju ini dulu. Kapan dan bagaimana ada baju ini di Indonesia...”, jelas ayah. “Memang bagaimana baju itu bisa sampai Indonesia, yah?”, tanyaku memotong penjelasan ayah. “Kamu itu ya, kebiasaan, kalau sudah sangat ingin tau, suka banget motong penjelas orang, gak baik itu Nadi”, kata ayah sambil mencubit hidungku. “Hihi, maaf yah”, ujarku polos.
“Jadi, pada abad ke-17 ketika warga Tionghoa didatangkan oleh VOC ke Batavia untuk membangun kota, para laki-laki (engkoh-engkoh) itu mengenakan baju ‘Tui-Khim’, yang hari ini kita kenal sebagai baju koko. Saat itu, Tionghoa masih belum merdeka, dan masih berstatus sebagai budak orang Eropa. Saat itulah, orang Indonesia mengenal model baju ‘Tui-Khim’. Lambat laun, baju ‘Tui-Khim’ mulai ditinggalkan oleh para peranakan Tionghoa, mereka lebih memilih fashion pakaian Eropa. Justru setelah itu, baju ‘Thui-Khim’ banyak digemari oleh pribumi Indonesia. Baju ini awalnya diadaptasi oleh orang Betawi, mereka padu padankan dengan celana batik atau celana longgar, maka perhatikan saja kemiripan antara baju koko dengan baju tikim Betawi. Bajunya engkoh-engkoh, yang dalam ejaan Indonesia menjadi baju koko kemudian menjadi marak digunakan sejak 1990, dimana berbagai unsur Islam sudah memperoleh kesempatan dalam ruang publik dan struktur negara, termasuk berekspresi melalui fashion dan kultur. Sejak saat itulah, baju koko banyak mengikuti trend yang ada, sehingga modelnya menjadi sangat beragam dan nyaman dipakai di berbagai acara, baik ibadah, acara resmi, maupun santai”, papar ayah panjang lebar, demi memuaskan rasa ingin tahuku.
“Yah, tapi kenapa gak ada istilah baju cici”, tanyaku lagi, sedangkan ayah mulai menatapku gemas. “Nadi, tadi kan ayah sudah bilang, baju itu ada, ketika engkoh-engkoh Tionghoa didatangkan VOC ke Batavia untuk membangun kota, artinya para engkoh itu juga merasakan kerja rodi. Adakah cici-cici yang dikaryakan dalam pembangunan kota? Gak ada kan, karena yang dikirim ke Batavia adalah engkoh-engkoh bukan cici-cici”, jawab ayah sabar. “Oh, begitu. Baiklah ya, Nadi putuskan untuk paham saja, sebelum ayah makin gemas”, tukasku sambil tergelak yang hanya ditanggapi ayah dengan gelengan kepalanya, sambil berkata “Bu, dulu waktu hamil Nadi, ngidam apaan sih bu, ayah kok lupa ya”, seloroh ayah sambil terus tertawa, dan hanya dibalas ibu dengan mengedikkan bahunya.
Ungaran, 23 Januari 2021





Comments