top of page
Search

JANGAN USIK HOBIKU

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 18, 2021
  • 2 min read

Aku suka sekali membaca. Bukan buku-buku berat seperti yang kalian pikirkan. Aku menyukai bacaan ringan seperti komik bergambar, atau novel fiksi, dan beberapa sastra kuno. Aku seakan menemukan duniaku saat aku tenggelam dalam fantasi si penulis. Aku merasa bahwa aku tengah menjadi tokoh dalam semua cerita itu. Menyenangkan sekali. Tenang dan terkadang mendebarkan juga. Bukankah hobi adalah escape plan dari semua kejenuhan yang tengah terjadi, tempat kita mengembalikan kewarasan setelah sekian lama menuruti kemauan banyak orang.

Entah sejak kapan aku mulai menjadikan ‘membaca’ sebagai hobiku. Mungkin sejak aku baru belajar mengeja huruf demi huruf, atau saat ayahku secara rutin membelikanku buku-buku cerita bekas karangan para penulis internasional, yang banyak dijual di pasar loak, atau saat ayahku selalu membuatku penasaran dengan kisah-kisah fiktif yang ia ceritakan setiap malam jelang tidurku. Buku-buku cerita bekas yang ayah belikan untukku adalah hiburan terbesar bagiku. Ketika televisi banyak menjadi hiburan bagi anak-anak seumuranku, dengan kartun dan sinetronnya, aku tak merasakan itu. Ya, di kampungku hanya aku dan keluargaku yang tidak memiliki televisi. Ayahku lebih memilih untuk mempertahankan sebuah komputer dengan layar yang kala itu masih berkonde, hanya seleron, belum pentium, dibandingkan televisi. Untuk menikmati kartun di hari Minggu pagi, aku harus bangun lebih pagi, mandi dan merengek sarapan lebih awal pada ibuku. Setelah itu, dengan tak sabar, aku mengetuk pintu salah satu tetangga yang menjadi langgananku untuk menonton tayangan televisi. Masih jelas diingatanku, jam 6 pagi adalah Club Disney Indonesia, dan diakhiri pukul 11 pagi, dengan film power ranger.

Selalu, setiap pulang dari acara nonton televisi di rumah tetangga, ayahku menanyakan apa saja yang aku dan adikku tonton hari itu. Dan dengan penuh antusias aku akan menceritakan apapun yang kutonton di televisi tetangga. Tak jarang, ayah akan menyodorkan kertas padaku, untuk menuliskan apapun yang menurutku menarik dari setiap tayangan di televisi Minggu pagi. Meski sudah menonton tayangan televisi, aku tetap tak bisa jauh dari cerita bergambar yang tiap bulan dibeli ayahku. Biasanya ibuku akan mulai protes “kalau anak dikasih komik dan buku cerita terus, apa tidak akan membuatnya bodoh? Harusnya Nadi lebih sering membaca buku pelajarannya, dari pada buku-buku ini. Ayahnya membelikan buku cerita, anaknya masih rental komik dan meminjam buku cerita juga dari perpustakaan. Kapan pintarnya?”, ujar ibuku garang.

Aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku selalu sedih saat ibuku mengatakan aku akan bodoh jika terus membaca buku cerita. Dengan mendekap buku cerita yang kupinjam dari perpustakaan 2 hari yang lalu, aku masuk ke dalam kamarku, menarik selimut hingga menutupi kepala, dan terus membaca buku cerita itu sebelum esok harus kukembalikan. Aku anak pintar, begitu semua guru memanggilku. 3 besar dalam peringkat kelas tak pernah luput dariku meski aku tak ikut les tambahan untuk pelajaran apapun. Bukankah itu cukup membuktikan bahwa buku cerita tak lantas membuatku bodoh? Justru aku merasa semakin pintar dengan adanya buku cerita. Kosakata yang kumiliki jauh lebih banyak dari teman-teman sepantaranku. Aku jago bercerita, sehingga banyak teman yang kagum dan antusias kala mendengarkanku bercerita. Aku juga senang menulis, menuangkan semua hal terus menggeliat di dalam pikiranku. Kupikir itu adalah berkat banyaknya buku cerita yang sudah kubaca. Hari ini, bercerita, mendengarkan orang bercerita, dan menulis menjadi rekreasi untukku dalam mengisi waktu luang. Bukankah itu hobi yang indah dan tak merugikan orang lain. Jangan usik hobiku!

Ungaran, 18 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page