top of page
Search

HATI YANG TERTIDUR

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 17, 2021
  • 3 min read

...ting! sebuah pesan masuk ke dalam ponselku, yang saat itu tengah duduk di sebuah warung kopi bersama dua orang sahabatku. “Cika, golongan darahmu AB, kan?”tanyaku pada Cika yang tengah asyik berswafoto dengan ponselnya. “Iya, emang kenapa?”jawab Cika cepat. “Eh, ini Cik, barusan pesan di grup kalau ada yang sedang nyari darah AB, untuk operasi istrinya, karena stok di PMI sedang kosong, kamu bisa banget nih donorin darahmu”, ujarku dengan mata berbinar. “Ogah ah, emang siapa yang butuh sih, kenal juga enggak. Biar orang lain aja deh yang donor”, tukas Cika. “Atau Rara aja deh tuh disuruh donor, kan dia biasa donor darah tiap bulan”, tambah Cika.

“Ra...golongan darahmu apa?”, tanyaku sambil menepuk pundak Rara yang sedang asyik dengan tiktoknya. “Golongan darahku kan sama kayak kamu, Nad...O resus positif”, jawab Rara. “Emang kenapa sih?” tanyanya. “Ini ada yang lagi nyari darah AB untuk operasi istrinya, tapi Cika gak mau donorin darahnya, padahal stok di PMI sedang kosong”, jawabku. “Eh, ngomong-ngomong, sejak kapan sih kamu rajin donor darah gitu?”, tanyaku penasaran. “Hahaha, udah setahun ini sih bahkan ketika aku lagi gak enak badan juga tetep donor loh, sejak aku liat mas-mas di PMI ganteng banget Nad, terus juga kalau habis donor, pasti ada wawancara dan diunggah di website PMI dong, kan secara gak langsung popularitas aku sebagai pendonor ikut terdongkrak, dan bakal dapet banyak pujian dari netizen. Lumayan lah buat ngurangin haters”, ujar Rara sambil tergelak. “Astaghfirullah” sahutku. “Kenapa punya temen hatinya pada tidur gini sih”, gumamku dalam hati.

Hazelnut latte pesananku sudah datang, begitu juga dengan Milkshake dan Hot Chocolate pesanan Cika dan Rara. “Cik, golongan darahmu kan terbilang langka nih ya, misalnya saja, misal loh ya, kamu kecelakaan dan nyaris kehabisan darah. Padahal stok di PMI lagi kosong, karena saking langkanya orang dengan golongan darah AB. Mamamu bingung, sampai bikin pesan berantai kayak yang tadi aku dapat. Pas banget deh ada yang cocok golongan darahnya sama kamu, dan ogah ngedonorin darahnya buat kamu, karena kenal aja enggak kan. Gimana perasaanmu?”, ujarku tiba-tiba pada Cika. Sontak Cika tersedak milkshake yang tengah diminumnya. “Idih, Nadi, kok ngomongnya g enak gini sih, doain jelek temen sendiri”, kata Cika, sewot. “Lah, kan misal doang, Cika, misaaal”, jawabku cepat. “Lagian nih ya, kata Khalifah Ali bin Abi Thalib: mereka yang tidak seiman denganmu adalah saudaramu dalam kemanusiaan. Jadinya, jangan pernah bilang ‘kenal aja enggak’, selama masih sama-sama manusia, ya dia masih saudara dalam kemanusiaan, kecuali kalau kamunya bukan manusia”, tambahku sambil terkekeh, sedangkan Cika mendadak terdiam, sambil sesekali memainkan sedotan milkshake-nya.

“Eh Nad, Cika kamu apain tuh, kenapa jadi diem gini anaknya”, tanya Rara padaku. “Gak aku apa-apain kok, beneran. Dia lagi menghidupkan hatinya, mungkin”, jawabku asal. “Oia, Ra, denger kamu dan donor darah, aku jadi inget, kalau dulu zaman sahabat ada juga loh, orang yang deklarasi, kalau dia mau beribadah terus supaya orang akan mengingatnya dan membicarakannya sebagai seorang ahli ibadah. Dan tau g sih, setelah itu dia selalu aja datang ke masjid paling awal dan pulang paling akhir. Bahkan tiap orang datang ke masjid, selalu aja pas ini orang sedang shalat”, ujarku sambil sesekali menyeruput hazelnut latte-ku. “Wah, sukses dong itu orang jadi buah bibir masyarakat karena udah jadi ahli ibadah”, timpal Rara bersemangat. “Sayangnya enggak sih Ra, justru tiap dia lewat, orang-orang justru berkata: ‘Lihat tuh, orang yang hobi pamer sama ibadahnya’”, jawabku cepat. “Terus, si orang ini akhirnya sadar, kalau perbuatannya hanya akan membuat dirinya makin buruk, sejak saat itu, ini orang niat beribadah lillahi ta’ala, sewajarnya aja, sedekah sewajarnya, tanpa menambah-nambahi dari yang selama ini sudah dilakukannya. Dan kamu tau, sejak saat itu juga, orang-orang di kotanya selalu mendokannya agar ia senantiasa dirahmati Allah”, ujarku menutup cerita ini. Dan, selanjutnya aku mendapati Rara yang menyusul Cika dengan diamnya.

Hening rasanya, menikmati secangkir kopi tanpa celoteh dari dua temanku ini. Sampai suara Cika memecah keheningan di meja kami. “Nad, balik dari sini, mampir RS dulu ya, temenin aku donor ya, buat bantuin ibu-ibu yang mau operasi”, kata Cika sambil terus memainkan sedotan milkshakenya, enggan menatapku. “Nad, makasih udah ingetin aku buat gak salah niat. Besok kalau aku lupa ingetin lagi ya, kalau aku donor mesti lillahi ta’ala, demi kemanusiaan”, ujar Rara dengan suara lirih. “Tumben sekali”, batinku. “Alhamdulillah, aku kok seneng gini ya. Jadi ingat, kalau Allah akan menanamkan rasa kasih sayang dalam hati hamba-Nya yang telah beriman dan berbuat baik (QS 19:96)”, pekikku sambil memeluk dua temanku bersamaan, yang jelas menarik perhatian orang dalam warung kopi ini. “Eh, udahan yuk, malu nih diliatin banyak orang, lagian kan kita mau nganterin Cika donor darah dulu”, bisikku pada Cika dan Rara, yang sontak disambut gelak tawa dari keduanya. “Ngopi selain bikin mata melek, juga bisa bikin hati melek juga ternyata”, kekehku seraya keluar dari warung kopi.

Ungaran, 17 Januari 2021





 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page