top of page
Search

DIRIKU, AKU MEMAAFKANMU

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 20, 2021
  • 3 min read

“Nadiii, hiks, aku benar-benar benci dengan diriku sendiri, apa aku benar-benar tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan benar?!?”, tangis Cika sambil memelukku erat. “Eh, ada apa ini?”, tanyaku lirih. “Sepertinya aku salah ngomong ke Ryan, sekarang dia menjauhiku dan sudah seminggu ini ia tak lagi menghubungiku”, ujar Cika sambil sesekali menyeka air matanya. “Itu saja?”, tanyaku sambil mencubit pipi Cika. Ya, Cika adalah temanku yang imut, bahkan saat dia menangis pun masih sangat imut. Pipi chubby Cika menggembung tanda ia tak menyukai tindakanku. “Dan karena Ryan menjauhiku, aku bahkan lupa dengan deadline tugas dari Pak Amin, sehingga aku mengerjakannya asal-asalan, dan berakhir ditegur beliau, belum lagi muka masam dan mood-ku yang memburuk seminggu ini membuat mami ikut uring-uringan di rumah, karena aku bahkan tidak turun untuk membantu mami menyiapkan arisan keluarga di rumahku 3 hari yang lalu”, cerita Cika sesenggukan.

“Maafkan dirimu, Cik”, ucapku perlahan. “Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri, Nadi. Sudah terlalu banyak kebodohan yang dilakukan oleh diri ini”, umpat Cika sambil memukul-mukul kepalanya. “Bagaimana mungkin kamu dapat begitu mudah memaafkan orang lain, tapi sulit memaafkan dirimu sendiri? Apakah dirimu tidak lebih berharga dari orang-orang yang sudah kau maafkan selama ini?”, sindirku. Cika hanya terdiam, dan bersiap mendengarkan semprotanku selanjutnya. “Kamu tanpa dirimu bukanlah Cika yang dikenal orang banyak hingga saat ini. Kamu yang dikenal periang, kamu yang selalu bersemangat, kamu yang dikenal pintar, aktif, dan pemaaf adalah kamu dengan dirimu. Bagaimana mungkin kamu tidak memaafkan dirimu saat ia hanya sesekali saja melakukan kesalahan? Ingatlah seberapa sering dirimu ini ada dan membuatmu bangga sebagai Cika? Dirimu adalah bagian darimu Cika, yang akan menyertaimu hingga akhir hayatmu. Akankah kamu terus membencinya, sedang kamu masih akan hidup bersamanya selama itu?”ujarku panjang lebar.

“Hiks, bagaimana aku memulai memaafkan diriku sendiri Nad?”tanya Cika sambil terisak. “Hmm, dengarkan baik-baik, ustadzah Nadi akan berdakwah”, kelakarku yang disambut dengan tawa Cika yang tertahan. “Cika, proses memaafkan tidak terjadi begitu saja, setidaknya ada empat hal yang harus dilalui, yang pertama adalah “Mengenali perasaan”, perasaan bencimu pada diri sendiri biasanya dipicu oleh urusan yang belum selesai. Jika itu dengan Ryan, maka perbaiki komunikasimu dengan Ryan, bukankah ia masih kekasihmu? Yang kedua adalah “Tanggungjawab atas perasaan”, gunakan empatimu untuk dirimu, Cik, bukan untuk mengasihani diri, tapi sekedar untuk mengingatkan kamu kalau manusia itu tidak ada yang sempurna. Tidak semua hal terjadi dan bergerak atau kemauanmu. Ingat, kamu bukan Tuhan. Yang ketiga “Ekspresikan perasaaanmu” melalui dialog dengan dirimu sendiri, lakukan instrospeksi diri, kontemplasi (merenung), dan refleksi atas dirimu. Ingat, dirimu sudah banyak berjasa untukmu, setidaknya kamu apresiasi dan hargai itu. Dan yang terakhir, “Ciptakan citra dirimu yang baru”, dengan masa lalu sebagai referensi dan masa depan sebagai orientasi. Kalau kamu merasa banyak kebodohan yang kamu lakukan saat ini, maka gunakan itu sebagai referensi, dan jadilah Cika yang tenang, tidak gegabah, dan penuh perhitungan sebelum bertindak”, ujarku perlahan. “Bukankah sempurnanya keimanan saat kita mampu mencintai saudara kita layaknya kita mencintai diri kita sendiri? Bagaimana akan mencintai saudara kita, kalau pada diri sendiri masih tersulut kemarahan dan kebencian?” kataku mengakhiri percakapan serius ini.

“Jadi, aku harus mulai memaafkan diriku sendiri, kemudian mencintainya, jadi aku bisa mencintai saudara-saudaraku agar tercipta keimanan yang sempurna?” tanya Cika sambil mengelap ingus dari hidungnya. “Iya, Cika, memang begitu semestinya. Dan tolong tissue yang baru kau gunakan, jauhkan dariku, itu menjijikkan Cikaaa”, teriakku pada Cika, yang hanya dibalas dengan tawa lepas Cika. “Diriku, aku memaafkanmu”, ucap Cika penuh tekad.

Ungaran, 20 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page