DARURAT BEKAS POPOK SEKALI PAKAI
- Aksara Loka

- Jan 22, 2021
- 3 min read
Kalau surga digambarkan dengan adanya sungai yang mengalir di depan kita, maka harusnya dusunku pun begitu, namun tak jarang realita tak bersahabat dengan ekspektasi. Seperti saat ini, sungai yang mestinya mengalir dengan lancar dari hulu ke hilir, harus meluap di tengah-tengah, yang artinya dusunku kebanjiran. Lucu sebenarnya, dusunku di lereng utara gunung Ungaran, harusnya loh ya, jarang kebanjiran, nah ini??? Sungguh fenomena yang mengerikan untuk terus dibayangkan.
“Nadi, besok Minggu pagi ada kerja bakti, mau ngikut gak?”, tanya bu RT padaku. “Ikut bu”, jawabku spontan. “Besok, titik pembersihannya dimana ya bu?”tanyaku penasaran. “Kayaknya sih nyabutin rumput liar di paving sepanjang jalan dusun”, jawab bu RT tak yakin. “Loh bu, kenapa gak bebersih sungai dulu sih? Masih musim hujan nih bu, bakal sering banjir dong dusun kita?” ujarku kecewa. “Oh, iya ya... coba saya bilang bapak dulu ya”, kata bu RT yang kemudian disusul dengan langkah terburu untuk menemui pak RT, suaminya. “Duh, semoga sungai-nya didahulukan, udah siaga satu nih, banjir kok di daerah tinggi gini, gimana yang di daerah rendah-nya”, gerutuku sambil bergegas masuk rumah.
Esok harinya, Minggu pagi yang ditentukan sudah tiba. Semua warga RT berkumpul di depan mushola tak jauh dari rumah, dan seperti biasanya pak RT akan memberikan sedikit sambutan dan pembagian tempat kerja bakti. Dengan semangat 45 aku sudah ikut dalam kumpulan itu. Mengingat pandemi yang belum usai, meskipun berkumpul kami tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni memakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.
“Mengingat beberap hari ini, sungai yang lewat dusun kita meluap dan membuat beberapa tempat tergenang, bahkan banjir, meski tak besar, tetap saja menjadi sarang penyakit bagi warga kita semua. Apalagi hampir tiap siang, selalu hujan, maka pagi ini, kita semua akan bersama-sama membersihkan sungai dan mencari tahu sebab meluapnya air sungai tiap hujan deras mengguyur dusun kita. Dan sebelum kerja bakti ini dimulai, mari kita berdoa agar kegiatan ini diberi kelancaran”, sambutan pak RT mengawali kerja bakti pagi ini.
Usai doa bersama, kami beriringan menuju sungai di dusun kami, selagi belum hujan, maka debet air tidak sebanyak saat hujan turun. Belum sampai ke sungai, kami melihat banyak sekali benda-benda yang hanyut terapung di sungai, dan tau apa yang paling sering lewat???bekas popok bayi!!! “Jangan-jangan bekas popok ini yang membuat sungai dusun tersumbat”, gumamku. Dan benar saja, setelah sampai di sungai, onggokan popok bekas memenuhi penglihatan kami. “Astaga, darurat. Ini sudah benar-benar darurat” pekikku tak tertahan. Sontak semua warga menoleh padaku seraya menertawakanku. “Beginilah kenyataannya Nad, banyak yang tidak paham, bilang tidak suka banjir, tapi suka buang popok bekas sembarangan”, sahut pak RT.
Tanpa menunggu lama, kami semuanya berduyun turun ke sungai dan mulai membersihkan bekas popok yang menyumbat aliran sungai, awalnya kukira hanya sedikit, sebatas yang mengapung di permukaan sungai, tapi aku salah, ternyata yang sudah tenggelam ke dasar sungai jauuuuh lebih banyak. Pantas saja sungai makin dangkal, banjir tak mampu disangkal. Padahal popok-popok itu 42% mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) yang apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Senyawa ini dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan. Dan 55% bahan pokok pembuat popok sekali pakai adalah plastik yang notabene membutuhkan waktu lama untuk terurai. “Haduh, ini sih simalakama”, gumamku lirih. “Kalau dibakar bikin polusi, kalau ditimbun dalam tanah susah terurai, kalau dibuang ke sungai bikin sungai dangkal dan tercemar, belum lagi kalau musim hujan, banjir terus”, omelku tak dapat kutahan. “Pak, bikin sosialisasi pemusnahan popok sekali pakai dong”, usulku pada pak RT yang segera diiyakan oleh beliau.
Malam harinya, pada acara kumpulan RT, Bapak dan Ibu RT menyampaikan akan darurat popok bekas di dusun kami, beliau menghimbau untuk mengurangi pemakaian POSPAK (Popok Sekali Pakai) dan jika terpaksa menggunakan POSPAK, baiknya sebelum dibuang, popok dibersihkan dulu, dipisah dari sampah organik, dan dibuang pada tempat tertentu, agar nanti dapat dibantu pemusnahannya oleh Dinas Lingkungan Hidup. Dusunku sudah memulainya, semoga daerah lain pun melakukan hal yang sama. Selamatkan sungai kita bersama!
Ungaran, 22 Januari 2021





Comments