BUKAN REYOG PONOROGO
- Aksara Loka

- Jan 14, 2021
- 3 min read
Ayo nonton Reyog!!! Teriak seorang anak pada teman-temannya yang tengah asyik bermain gundu di halaman masjid. Nang ndi (dimana)?, tanya teman-temannya. “Lapangan mburi sekolah (lapangan di belakang sekolah)”, jawab si anak yang mengajak, masih dengan berteriak. “Ayooo”!!! sorak anak-anak yang tengah bermain gundu dengan kompak, seraya memasukkan gundu ke dalam kantong.
Suara gamelan yang telah ditabuh mulai terdengar seantero dusun. Hari ini ada acara sedekah dusun, dan Reyog menjadi salah satu kesenian yang ditampikan di sana. Rombongan anak-anak sudah mulai memadati lapangan. Antusias mereka selalu tinggi jika menyangkut tentang Reyog. Sengaja Reyog ditampilkan di awal sebelum acara inti sedekah dusun, agar para warga dapat segera berkumpul di lapangan, dan nantinya tidak ketinggalan prosesi inti sedekah dusun.
Reyog di dusunku bukanlah Reyog Ponorogo sebagaimana yang dikenal oleh banyak orang. Reyog di dusunku merupakan penampilan tiga buah tari, yakni tari Jatilan, Buto Gedruk, dan Leak Bali. Jatilan selalu identik dengan jaranan, celana pendek, jarik, udeng/blangkon, dan sampur/selendang tari. Adapun Buto Gedruk selalu menarik perhatian dengan topeng dan ratusan lonceng kerincingan di kedua kaki penarinya, sedangkan Leak Bali, identik dengan topeng Leak Bali nya. Leak Bali ini, meskipun bukan merupakan seni asli Kabupaten Semarang, tapi sering sekali ditampilkan dengan banyak penyesuaian dengan adat Jawa yang ada. Oh iya, semua penari yang hadir, kebetulan laki-laki. Meskipun biasanya penari dari perempuan juga ada. Biasanya ada tarian khas yang dibawakan oleh para penari perempuan, seperti tari merak, belibis, atau cendrawasih. Tapi pada sedekah dusun kali ini, para penari perempuan tidak dihadirkan.
Aku selalu menyukai bagian gerak inti dari tiap tarian itu. Semuanya dibawakan dengan sangat semangat dan penuh penjiwaan. Jangan tanya apa yang disukai anak-anak dusunku dari pertunjukan ini, mereka lebih menyukai tatkala para penari ini ndadi (kerasukan), dan terkesan sakti. Oh iya, pertunjukan Reyog ini dipercaya oleh kebanyakan masyarakat sebagai media yang menghubungkan para masyaraka dengan roh halus nenek moyang mereka. Maka, bukan hal aneh jika kita akan menjumpai berbagai sesajen seperti jajan pasar, bunga, air wangi, dan kain putih dalam pertunjukan ini. Eh, jangan lupakan dukun yang turut dihadirkan sebagai pawang para penari, agar saat kerasukan (dimasuki oleh roh halus nenek moyang masyarakat), ada yang mengendalikan para penari itu, seraya menyadarkan mereka.
Suara gamelan yang bertalu-talu terdengar makin nyaring dan temponya menjadi lebih cepat, tanda bahwa para penari sudah masuk ke dalam gelanggang tari lapangan ini. Dan lihatlah, bagaimana paras para penari sudah penuh dengan make up yang sebenarnya indah, namun mengandung kesan mistis sarat kesaktian. Aku sedikit takut tatkala penari itu melintas di hadapanku, meski ini bukan kali pertama aku menyaksikan Reyog, tapi tetap saja aku merasa takut jika berdekatan dengan para penari. Entah karena make up dan kostumnya, entah karena membayangkan bagaimana keadaan mereka ketika nanti ndadi (kerasukan).
Para penari Jatilan, Buto Gedruk dan Leak Bali sudah memulai aksi mereka. Tangkas, luwes, dan bersemangat adalah kesan yang kudapatkan. Gerakan yang selaras dengan gamelan yang ditabuh, juga selingan lagu campursari, membuat suasana Jawa amat kental pada kesenian ini. Ada juga permainan gamelan Bali kala mengiringi Leak Bali, namun tetap ada campursari Jawa di sana. Gerakan pembuka dari tiap tarian sudah berakhir, tanda para penari akan melanjutkan pada gerakan intinya. Antusiasku memuncak, meski ingat bahwa tak lama setelah ini, para penari anak mulai ndadi, satu demi satu. Dan benar saja, ketika salah satu penari mulai ndadi, sang pawang sesekali memberinya bunga sebagai makanan. Riuh makin terasa, karena sorak masyarakat mulai tak terbendung. Makin banyak yang ndadi, makin kuat teriakan para warga yang menyaksikan pertunjukan ini, tak terkecuali anak-anak yang turut hadir di sana.
Jantungku kian berdegup kencang, melihat para penari yang kini telah semuanya ndadi, menyaksikan bagaimana mereka semua mendadak menjadi sakti, tak merasa kesakitan meski sudah dipukul, dicambuk, bahkan dilukai dengan senjata tajam. Pecahan beling dan kaca, bak kerupuk di tangan para penari yang telah ndadi, dimakan dengan santai tanpa sedikitpun takut terluka, ya, mereka seketika itu telah menjadi kebal terhadap apapun. Para warga bersuka cita menyaksikan itu semua, tanda bahwa roh para leluhur telah hadir dan bersemayam di tubuh para penari. Sebuah pertanda bahwa para leluhur masih melindungi dusun. Tanda bahwa sedekah dusun tahun ini akan menjadi pertanda baik bagi dusun selama setahun mendatang.
Reyog ini menggabungkan tiga seni sekaligus, yakni seni gerak tari, musik, dan tata rias. Tercermin dari karakter para penari yang sudah berbeda saat make up karakter disematkan pada mereka, tarian dan musik yang terus bergema selama mereka menari. Meski aku menyukai semua itu, namun melihat para penari ndadi bukanlah hal yang mudah bagiku. Demi menyelamatkan jantung yang degupnya makin tidak karuan, aku memutuskan untuk keluar dari lapangan, menuju warung-warung tenda dadakan yang ada di sepanjang jalan dusunku. Mencari segelas teh hangat dan gorengan panas akan menjadi pilihan terbaik sembari menunggu degup jantungku kembali normal.
Ungaran, 14 Januari 2021





Comments