top of page
Search

BPJS BANTU TUNAIKAN BAKTI

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Feb 4, 2021
  • 4 min read

Dahulu, almarhumah mbah rayi-ku mengidap kanker payudara. Saat itu, ia segera dilarikan ke rumah sakit daerah, berharap akan mendapatkan penanganan dengan cepat. Sesampainya di rumah sakit, ternyata mbah rayi-ku tidak segera mendapatkan penanganan seperti yang keluarga harapkan. Kebetulan, keadaan rumah sakit hari itu sedang penuh, sehingga kamar perawatan tidak ada yang kosong, sehingga mau tak mau, mbah rayi-ku harus menunggu di koridor rumah sakit. Tak lama kemudian, ada satu pasien yang sudah diperbolehkan pulang, ini artinya sudah ada kamar kosong untuk mbah rayi, tapi, kenyataannya, justru pasien lain yang tiba setelah mbah rayi-lah yang dimasukkan ke kamar kosong itu. Ingin tahu sebabnya? Karena mbah rayi-ku terdaftar sebagai pasien pengguna HI (Health insurance), asuransi kesehatan saat itu, mengingat mbah kung-ku adalah seorang PNS. Sedangkan pasien tadi menjadi prioritas karena tidak menggunakan HI.

Mbah Kung yang marah pada pihak rumah sakit, saat itu juga memindahkan mbah rayi ke sebuah rumah sakit swasta. Ia tak lagi mempercayai asuransi kesehatan yang diadakan pemerintah. Bahkan hingga akhir hayat mbah rayi dan mbah kung, keduanya tak pernah lagi menggunakan kartu HI nya, percuma. Sejak saat itulah, keluargaku, terlebih ayahku enggan mempercayai asuransi kesehatan yang diadakan oleh pemerintah. Bahkan semenjak Health Insurance (HI) berubah menjadi kartu Asuransi Kesehatan (Askes) hingga menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS), keluarga kami enggan mengurusnya. Lebih baik tidak, daripada harus menelan pahitnya kecewa.

Namun, 3 tahun yang lalu, saat mbah kakung dari ibuku sakit. Beliau yang memang sejak awal enggan dan selalu menolak jika ingin dibawa periksa ke dokter, memilih untuk dirawat di rumah dengan peralatan dan pengetahuan seadanya dari keluarga di rumah. Sudah sebulan beliau sakit dan hanya tinggal di rumah, tanpa pernah bertemu dokter untuk diperiksa. Alhasil sakit beliau bukannya semakin membaik, justru sebaliknya. Ibuku yang merupakan sulung dari mbah kakung, mau tak mau memaksakan diri untuk pulang kampung hanya demi membujuk mbah kakung agar mau berobat.

Tepat saat ibuku masuk ke rumah mbah kakung, amarah ibuku sudah di ambang batas. Menyaksikan bapaknya sakit dan tak berdaya namun hanya dibiarkan begitu saja, sontak menyulut amarah ibuku. “Kenapa bapak gak dibawa ke dokter, atau ambil ranap di RS?”, tanya ibuku berang. “Gini yu’, biaya RS dan dokter tidak murah, tahu sendiri kondisi kita yang pas-pasan. Lagian juga bapak minta untuk gak usah dibawa ke dokter atau RS”, jawab bulikku, adik dari ibu. “Dosa, kalau kita tidak mengupayakan kesehatan bapak”, tukas ibuku. Malam itu juga ibuku bersikeras akan membawa mbah kakung ke rumah sakit. Saat mbah kakung sudah siap, kendala datang dari transportasi yang akan digunakan untuk membawa mbah kakung ke rumah sakit. Berbekal sebuah nomor yang tercantum di internet, fasilitas ambulance gratis dari pemerintah daerah pun dihubungi ibuku. Alhamdulillah, 10 menit kemudian ambulance datang dan membawa mbah kakung ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, mbah kakung dimasukkan ke dalam ruang ICU, ternyata sakit beliau sudah separah itu. Ibuku menangis melihat semua alat kesehatan yang dipakaikan perawat pada mbah kakung. Infus, oksigen, hingga detektor jantung semuanya terpasang pada tubuh ringkih mbah kakung. Alat yang selama ini hanya kami lihat dari layar kaca sinetron, kali ini benar-benar tersemat pada sosok panutan kami, mbah kakung. Entahlah, saat itu biaya tak lagi terpikir oleh keluarga kami, fokus kami hanya mbah kakung segera sadar dan kembali sehat.

Selang beberapa saat, seorang perawat yang juga tetangga kami datang menghampiri dan menanyakan perihal kartu BPJS Kesehatan (Kartu Indonesia Sehat) milik mbah kakung, yang dengan segera kami jawab dengan gelengan kepala. Ya, kami sekeluarga tidak memilikinya. Kemudian, perawat itu meminta kami berupaya untuk mengurusnya, demi kemudahan perawatan mbah kakung. Kata-kata ‘demi mbah kakung’ terus terngiang di kepala kami, apapun demi beliau akan kami upayakan. Segera, bulikku pulang ke rumah dan mengurus syarat pembuatan Kartu Indonesia Sehat. Tak banyak yang siapkan saat itu, hanya KTP dan KK milik mbah kakung yang diserahkan kepada mbak Puji, tetangga kami yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit tempat mbah kakung dirawat, ia berjanji akan menguruskannya untuk kami. Hanya ucapan terima kasih yang kami ucapkan pada mbak Puji di tengah kerisauan kami atas kesehatan mbah kakung.

Tiga hari mbah kakung berada di ruang ICU dan belum juga tersadar. Selama itu, pihak rumah sakit telah mengupayakan banyak hal untuk beliau. Dari tes CT-Scan, yang kemudian kami ketahui bahwa ada pendarahan di otak mbah kakung, kunjungan rutin dokter demi memantau perkembangan kesehatan mbah kakung, hingga pengecekan berkala terhadap infus, oksigen dan detektor jantung yang terpasang di tubuh mbah kakung. Tepat di hari ketiga setelah maghrib, mbah kakung menghembuskan nafas terakhirnya, ditandai bunyi khas dari pemantau detektor jantung dan kurfa garis lurus yang terpampang di sana. Malam itu juga mbah kakung dibawa pulang ke rumah, untuk dikebumikan esok harinya. Dan untuk tagihan biaya perawatan mbah kakung selama tiga hari di ICU, semuanya gratis, tercover oleh BPJS Kesehatan melalui KIS. Meski pada akhirnya mbah kakung tetap harus berpulang, paling tidak BPJS kesehatan sudah membantu kami para anak dan cucu mbah kakung untuk memberikan bakti kami yang terakhir. Terima kasih kepada pemerintah Indonesia, melalui BPJS Kesehatan dan Kartu Indonesia Sehat yang sudah hadir di tengah-tengah kami, membantu warga kecil mendapatkan keadilan dan kesempatan yang sama dalam berobat.




 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page