top of page
Search

BELAJAR CARA BERSYUKUR

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 19, 2021
  • 3 min read

“Ih, gini amat sih ya, jadi mahasiswa. Tugas banyak, dosen nyebelin, belum lagi kalau sampai rumah masih disuruh ini itu. Jadi pengen nge-kos aja. Biar beneran ngerasain jadi mahasiswa hakiki”, gerutu Rara pagi ini. “Ehm, bersyukur Ra...”, sahutku santai tanpa menoleh pada Rara yang sedang menghayati curhat paginya. “Iya-iya, alhamdulillah Ya Allah..masih bisa jadi mahasiswa, meski dengan tugas segudang yang deadline nya deketan, belum lagi dosen yang makin hari makin nyebelin”, ujar Rara lagi. “Rara...bersyukur Ra”, ujarku kali ini sambil menatap Rara gemas. “Iya Nadiii, aku kan udah bersyukur dari tadi, nih, aku bersyukur lagi. Alhamdulillaaah ya Allah”, tukas Rara sewot. “Eh, Ra...jam makan siang nanti kita ke warung bu Nur ya. Aku kangen sego megono dan mendoan angetnya”, kataku tiba-tiba pada Rara yang hanya dibalas dengan anggukan kepala tanda setuju.

Warung Bu Nur, siang itu tampak lengang, karena aku dan Rara sengaja datang sebelum jam makan siang. “Paket sego megono, mendoan dan teh anget 2 ya Bu”, ujarku pada Bu Nur. “Siap nok”, jawabnya singkat. “Eh Ra, kamu tuh beneran kurang bersyukur deh”, kataku sambil mencolek lengan Rara. Rara yang tengah berselancar di aplikasi Instagram, sontak menghentikan kegiatannya dan menatapku garang. “Apalagi ini Nadiiii, bersyukur dan bersyukur terus yang kamu bahas dari tadi. Jadi ustadzah, aku sukurin loh kamu”, tukas Rara dengan nada sebalnya. “Kalau aku jadi ustadzah, ya aku aminkan loh Ra, kan doa bagus itu”, ujarku sambil terkekeh.

“Ra, karena aku pernah mondok, dan ada satu nasehat kyai-ku yang aku inget, dan itu relate banget dengan masalah syukur yang pagi ini kita ributkan Ra”, ujarku sambil mendongakkan kepala, menerawang pada ingatan beberapa tahun yang lalu saat aku masih ada di pesantren. “Oh, ya? Apa itu?” kata Rara sambil memutar bola matanya, tak begitu antusias sepertinya. “Bersyukur itu gak cukup dengan sekedar mengucap hamdalah, Ra. Hamdalah memang bagian dari syukur. Tapi makna syukur sejatinya lebih dari itu. Dan itu yang mau aku bagi ke kamu”, ujarku perlahan. “Jadi Ra, yang pertama itu, kita mesti mengingat bagaimana kita mendapatkan nikmat itu. Nah, sebagai mahasiswa, kamu pasti ingat, gimana perjuangan kamu sampai bisa kuliah di universitas yang diidam-idamkan oleh banyak orang di luaran sana. BTW, kamu inget kan?” selorohku pada Rara. “Inget banget lah Nad, gimana aku sampai borong buku-buku persiapan SBMPTN di Gramedia, belajar sampai jungkir balik, bahkan sejak SMA loh, sengaja supaya bisa masuk univ ini”, ujar Rara bangga. “Nah, kalau kamu inget perjuangan kamu supaya bisa jadi mahasiswa di sini, kenapa mesti gak bersyukur sih? Segala ngeluh tugas banyak, dosen nyebelin, dll”, kataku sarat sindiran.

“Syukur selanjutnya adalah bagaimana kita membuat nikmat yang tadi sudah diberikan, tidak hanya diam di tempat, harus ada pertambahan di sana. Kalau gak nambah, atau parahnya justru kamu ingkari nikmat itu, jangan heran kalau bakal ditegur Allah”, tambahku sambil menakut-nakuti Rara. “Emang kayak begitu ada ya Nad? Emang Allah beneran bakal kasih teguran?” tanya Rara cepat. “Lah, iya, beneran di Al-Qur’an ada kok, Surat Ibrahim ayat 7”, jawabku yakin. “Ra, sebagai mahasiswa dan punya tugas yang banyak, kita bersyukur dengan bertambahnya teman, tambah ilmu, tambah bacaan karena sering nyatroni perpus, tambah teman diskusi, pokoknya before-after gitu lah. Jaman SMA kita gimana, pas sekarang udah kuliah gimana. Ada perubahan/pertambahan yang positif dan signifikan apa enggak? Dosen hanya perantara kita untuk terus bersyukur Ra, bayangin aja banyak anak yang bahkan gak punya kesempatan untuk lanjut kuliah loh”, tambahku. Sedangkan Rara, ia mulai terdiam.

“Nah, cara syukur lainnya adalah, dengan membayangkan seandainya nikmat itu hilang dari kita”, ujarku lirih. “Ra, bayangin kalau kita gak kuliah. Kita gak akan saling kenal. Kita gak akan pernah tau dunia perkuliahan. Kita gak akan pernah tau bagaimana cara berfikir secara benar. Parahnya, gimana kalau setelah SMA kita udah dinikahkan dan hanya akan menambah kasus ketidakberdayaan perempuan di masyarakat”kataku sedih. “Itulah kenapa Ra, aku mau kita semua selalu bersyukur, supaya Allah gak murka dan nikmat yang sudah dititipkan pada kita, dicabut begitu saja”, tukasku mengakhiri pembicaraan agak serius ini.

“Huhuhu, aku baru sadar kalau selama ini aku bener-bener kurang bahkan gak bersyukur sama sekali Nad”, isak Rara. “Aku lupa, kalau saja Allah gak ridho, mana mungkin aku bisa keterima di univ ini. Aku malas berteman dan suka ngeluh soal tugas. Aku g pernah bayangin gimana kalau nikmat kuliah ini dicabut oleh Allah”, kata Rara dengan air mata yang mulai merebak. “Astaghfirullaha-l-adhiem”, ujar kami berbarengan. “Semoga setelah ini, kita bisa selalu bersyukur ya Nad, makasiih udah ingetin aku” ungkap Rara sembari memelukku.

Ungaran, 19 Januari 2021



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page