top of page
Search

ANAK DESA DAN AGAMA

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 16, 2021
  • 3 min read

Yang kutahu, aku telah terlahir sebagai seorang muslim, dengan orang tua hingga kakek buyutku yang merupakan pemeluk agama Islam. Sebagai anak desa yang lahir dan tumbuh di desa, maka agama yang kuketahui adalah apa yang diterapkan di desaku. Shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, merayakan dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha, menunaikan zakat fitrah adalah tradisi beragama di desaku, syukur kalau sudah memiliki harta yang berlebih, bisa menunaikan ibadah haji. Sesederhana itu aku memahami agamaku.

Waktu terus berjalan, anak desa ini kemudian memiliki kesempatan untuk melihat dunia di luar desanya. Melihat lebih banyak peristiwa dan bertemu dengan lebih banyak orang yang berbeda. Anak desa menemukan ada agama lain selain dari apa yang telah dianutnya selama ini, dengan cara ibadah yang berbeda, bahkan memiliki hari raya yang berbeda juga. Anak desa merasa sangat asing dengan semua itu, ia mulai bertanya-tanya. Apa sebenarnya agama itu? Dan apa agama yang paling benar? Apakah Tuhan tidak bingung dengan cara ibadah makhluknya?

Semua pertanyaan itu hanya bercokol di dalam kepalanya. Hampir meledak rasanya. Anak desa merasa bingung, kemana ia akan menanyakan semua hal asing yang baru saja ditemuinya. Ayah adalah orang pertama yang terpikir olehnya untuk dimintai keterangan. Selama ini, ayahnya lah yang senantiasa sabar dan telaten menjawab semua pertanyaannya. Sedang ibunya? Ia hanya akan mengamini apapun yang dikatakan oleh ayahnya. Alasannya sederhana, karena ayah pernah mondok dan menjadi santri, sedang sang ibu hanya mengenyam pendidikan formal umum. Jadi untuk masalah keagamaan, sang ibu seakan sudah mewakilkannya pada ayah.

Menghubungi ayah bukanlah hal yang sulit, terbukti pada dering kedua, suara beliau sudah terdengar dari ponselku. “Yah, apa itu agama?” tanyaku tiba-tiba. Melupakan salam yang biasanya menjadi pembuka setiap pembicaraan via telepon. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, sindir ayahku sambil terkekeh. “Assalamualaikum, yah. Apa itu agama?”, ulangku dengan salam sebagai pembuka pertanyaanku pada ayah. Seperti sudah mengerti bahwa anaknya, si anak desa yang baru saja keluar dari desa dan menemukan hal baru di luar desanya akan menanyakan hal ini padanya, dengan sedikit tawa yang tertahan, ayah mulai menjelaskan padaku tentang apa itu agama.

“Agama merupakan serapan dari bahasa sansekerta yang artinya tradisi. Sehingga dimaknai bahwa agama adalah tradisi atau sistem yang mengatur tata keimanan manusia, ibadah pada Tuhan, dan kaidah dalam bergaul dengan manusia. Agama selalu terkait dengan keyakinan, dimana keyakinan manusia tidak dapat dipaksakan. Jangan bertanya agama apa yang paling benar, karena setiap manusia yang meyakini sebuah agama, akan segera mengatakan bahwa agama yang dianutnya-lah yang paling benar. Dan itu tidak salah. Setiap manusia memiliki sebutan tersendiri untuk Tuhannya, dan Tuhan bukanlah manusia dengan jutaan keterbatasan. Tuhan selalu memahami dengan cara apapun manusia menyembah-Nya. Maka, cara terbaik dalam menjalankan agama adalah bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia lainnya. Dan perlu diingat, bahwa tidak ada ajaran agama apapun yang menyeru manusia pada tindakan yang buruk dan tak bermoral. Karena itulah agama dijadikan tuntunan bagi umatnya.” Ujar ayah panjang lebar. Dan aku, si anak desa, hanya dapat terdiam meresapi penjelasan ayah.

“Mungkinkah ini yang dimaksud bapak menteri agama, bahwa agama adalah inspirasi, dan bukan aspirasi”, gumam anak desa, lirih. “Ya”, jawab ayah dari seberang. “Berarti, jika agama dijadikan aspirasi, maka akan banyak sekali manusia yang terkotak-kotak atas dasar agama, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perpecahan, perselisihan, bahkan pertumpahan darah yang didasarkan pada agama. Sedangkan jika agama dijadikan sebagai inspirasi, maka setiap manusia yang beragama akan menyadari bahwa kemanusiaanlah yang mendasari adanya agama. Sehingga setiap umat beragama akan hidup berdampingan dengan harmonis dan tanpa konflik”, ujarku dengan penuh semangat. “Ah, sepertinya anak ayah banyak belajar di luar sana, terus hargailah semua pendapat orang, jangan mudah-mudah mencelanya. Karena kebenaran bisa datang dari manapun, dan dari siapapun”, kata ayah di akhir perakapan kami.

Mata si anak desa kini terbuka lebar. Hal asing yang dahulu mengganjal di hatinya, kini tampak bagai kombinasi warna-warni yang indah. Inilah keberagaman, bukan keseragaman. Inilah warna-warni agama. Inilah warna kehidupan yang menawan.

Ungaran, 15 Januari 2021





 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page