top of page
Search

5 FENOMENA KUNO TERHADAP PEREMPUAN

  • Writer: Aksara Loka
    Aksara Loka
  • Jan 12, 2021
  • 2 min read

Mengingat sesi sharing time malam tadi, sontak mengingatkanku pada patah hati yang luar biasa. Antusiasku untuk berbagi dengan seorang penulis yang luar biasa seperti mbak Muyassarotul Hafidzoh, sosok dibalik novel sarat makna ‘Hilda’ harus pupus di tengah jalan. Bagaimana tidak patah hati jika suara narasumber hampir tak terdengar, sekalinya terdengar pun harus putus-putus. Bagai cenayang yang tengah menerka-nerka maksud yang tersirat dari semua penjelasan sang narasumber. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena signal yang seakan turut terhempas hujan deras malam tadi. Hujan yang datang dibarengi dengan angin kencang dan gelegar petir, jelas semua itu membuatku ketar-ketir tak karuan. Jika tak mengingat ada dua adik di dekatku, sudah pasti aku akan menangis sesenggukan.

Meski hanya berupa potongan informasi dari sang narasumber, melalui tangkapan layar yang sengaja kulakukan kala signal tengah timbul, dan harus kehilangan penjelasan gamblangnya karena signal yang tenggelam, aku sempat menangkap beberapa informasi yang semoga saja dapat menjadi informasi yang utuh melalui tulisan ini.

Perempuan hari ini, masih dihadapkan dengan fenomena kuno berformalin, awet banget. Sudah sejak kapan hal itu dibahas dan hingga kini belum juga berakhir. Seperti:

1. Stigmatisasi (penilaian buruk masyarakat) terhadap perempuan saat perempuan mengalami keadaan yang sulit. Seperti para korban penyitas kekerasan seksual. Stigma yang terbentuk di masyarakat bukan mencarikan keadilan baginya, melainkan melabeli korban sebagai perempuan sosok yang tak dapat menjaga diri, pembawa aib, murahan, dsb. Sedangkan pelakunya? Selalu selamat, selama stigmatisasi buruk terhadap perempuan masih terus ada.

2. Subordinasi, dimana peran perempuan dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Seberapa sering kita mendapati perempuan dianggap emosional dan irrasional, sehingga dianggap tak mampu memimpin? Seberapa sering kita mendapati statement masyarakat yang menyatakan bahwa pendidikan tinggi tidak diperlukan oleh perempuan, karena toh hanya akan berakhir di dapur?

3. Marginalisasi, yang dapat dimaknai sebagai pemiskinan, atau peminggiran, juga pengabaian hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh perempuan seperti tatkala perempuan tidak diberikan hak yang sama dalam menempati pos-pos penting di birokrasi, atau jabatan tinggi lainnya, yang mungkin memiliki pemasukan yang lebih banyak, dengan alasan bahwa perempuan bukanlah pencari nafkah utama di keluarga. Namun, bukankah hari ini kita banyak menjumpai perempuan yang lebih berdaya daripada laki-laki dalam urusan menafkahi keluarga?

4. Kekerasan, banyak sekali kekerasan yang dialami perempuan, bukan hanya kekerasan seksual, melainkan kekerasan fisik, intelektual, emosional/psikis, ekonomi, hingga kekerasan pembatasan akivitas.

5. Beban ganda, sebagaimana fenomena yang sering kita temui, dimana perempuan hampir selalu dituntut untuk melakukan peran yang tak sedikit. Seperti menjadi sosok ibu rumah tangga, orang tua bagi anak, istri bagi suami, pencari nafkah demi membantu suami dalam perekonomian keluarga dan masih banyak lagi, apalagi saat perempuan itu juga memiliki posisi di masyarakat.

Sedih, jika mengingat semua ini sudah berlangsung sangat lama. Kapan kesemuanya itu akan berakhir, jika tidak dimulai dari para perempuan sendiri. Melawan arus tidak selamanya salah. Apalagi jika arus yang sudah terlanjur terbentuk adalah salah. Akankah kita masih melanggengkannya? Tentu saja tidak. Dan saat perempuan mengalami salah satu dari lima fenomena tersebut, siapa yang akan menjadi tempat kembali baginya, jika bukan keluarga. Karena bagaimanapun keluarga memiliki peran yang sangat besar sebagai support sistem bagi perempuan yang mengalami lima fenomena kuno itu.



 
 
 

Comments


Subscribe Form

  • Instagram

©2020 by Aksara Loka. Proudly created with Wix.com

bottom of page